Blog EntryMengolah sampah rumah tanggaJul 17, '07 12:16 AM
for everyone
"Sebagai wakil Allah SWT di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Allah SWT makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi?"

Itu adalah tulisan pak Djamaludin Suryohadikusumo, mantan menteri Kehutanan RI yang sangat peduli lingkungan, dan di masa purna tugasnya masih melakukan pekerjaan sosial bersama-sama bu Niniek - istrinya - membuat Kebun Karinda di lingkungan rumahnya yang merupakan tempat pelatihan pengolahan sampah menjadi kompos skala rumah tangga.

Selama ini, jujur, saya masih menganut paham "Jangan buang sampah sembarangan !!"
Artinya, saya juga mengajarkan anak-anak untuk 'buanglah sampah di tempat sampah'. Ternyata memang sekarang itu aja ngga cukup
.

Belakangan ini, saya memang sudah mulai sedikit-sedikit memisahkan sampah dapur (organik) dengan sampah plastik (anorganik). Tapi masih belum konsisten karena masih belum ngerti sesudah dipisahkan lalu mau diapain sampah organiknya.

Sebenernya sih, sudah lama juga saya pengen ikut pelatihan di kebun karinda, tapi kesempatan itu baru ada kemarin. Sesudah kebun TOGA ( tanaman obat keluarga ) mulai berjalan di lingkungan kami, kami pengurus arisan berpikir mungkin program berkebun ini bisa 'disambung' dengan program pengolahan sampah rumah tangga.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya dapat kesempatan bicara di depan forum arisan ibu-ibu mengenai pengolahan sampah rumah tangga. Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada mereka adalah "Bagaimana cara ibu 'membuang' sampah ?"

Hampir 100% mengatakan "Buang segala macam sampah ke tempat sampah dalam rumah, masuk dalam plastik kresek, diiket, buang ke tempat sampah depan rumah, lalu diangkut deh oleh petugas kebersihan..."

Ok, lalu....dibawa ke mana sampah-sampah itu oleh petugas kebersihan di perumahan ? Sebagian besar ibu masih bisa menjawab, dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tapi sesudah dari sana entah diangkut ke mana lagi oleh petugas Dinas Kebersihan Kota.

Yang jelas, sebagian besar kita yang tinggal di perumahan - termasuk saya - merasa sesudah sampah hilang dari pandangan mata kita, kita menganggap sudah menjaga kebersihan lingkungan.

Padahal sebenernya, sampah kita yang mungkin cuma 1 kantong plastik 'kresek', sampai di TPS bergabung dengan 'teman2nya' sesama kantong plastik 'kresek' di satu perumahan itu menjadi bukit 'kecil', bau, kotor, dan jadi sumber penyakit.

Belum selesai di sini, mereka semua ( kantong2 plastik kresek ) diangkut lagi dan berkumpul lagi dengan 'teman2nya' di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) menjadi gunung 'besar' yang jelek, bau, kotor, beracun dan beratnya berton-ton ! Dan di sana juga numpuk ngga bisa diapa-apain, karena semua bercampur baur...

Lalu muncullah berita, TPA di daerah sana longsor menimpa rumah2 penduduk, atau Bandung menjadi lautan sampah, dst. Belum lagi banjir, penyakit dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah2 itu.

Kita cuma bisa prihatin dan mungkin yang ada dalam benak kita...aah, kan kita 'cuma' berkontribusi menyumbang 1 kantong plastik 'kresek' aja sehari kok. Bener ngga ?

Sesudah itu saya juga masih bertanya,"Apa ada ibu yang membakar sampahnya ?" Alhamdulillah semua menjawab,"Wah, kalau dibakar kan polusi". Iya memang, selain polusi dan bisa 'dipentung' tetangga, juga bisa memperparah pemanasan global.

Dan mudah2an sih, ngga ada di antara teman-teman yang menganggap jalan dan sungai itu adalah tempat sampah raksasa..hehehe...

Hmmm...rasanya kok ngga adil ya kalau kita sebagai manusia penghasil sampah cuma bisa menyalahkan Dinas Kebersihan kota kalau ngeliat sampah kota berserakan di mana-mana, dengan alasan "Kan kita sudah bayar uang kebersihan" selanjutnya kan jadi urusan pemerintah kota...

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan ?

Kita harus merubah mind set kita dari "buang sampah pada tempatnya" menjadi "jangan malas memilah sampah". Mulai dari diri kita sendiri, dari rumah tangga kita sendiri aja dulu..

Saya juga sempet berpikir, duh, kayaknya kok susah ya mengolah sampah jadi kompos....gimana caranya yaaa ??

Alhamdulillah, kemarin saya dan keluarga bersama teman-teman kompleks perumahan tempat saya tinggal, bisa belajar mengolah sampah dan pembibitan tanaman di Kebun Karindanya Bapak Ibu Djamaludin.

Dan ternyata...bapak ibu Djamal bisa membuat pekerjaan yang tadinya ( di mata saya ) keliatannya susah dan sangat teoritis, jadi keliatan sederhana...dan bisa langsung dipraktekin di rumah, terutama karena blio juga menyediakan keranjang sakti tempat pengomposan, lengkap dengan petunjuk penggunaannya.

keranjang sakti Takakura

Ini sebagian ilmu yang bisa saya share di sini tentang bagaimana mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

Pertama, pilahkan sampah organik ( sampah dapur dan halaman ) dan sampah non organik. Komposisi terbesar dari sampah rumah tangga sekitar 70% sebenarnya adalah sampah organik. Dan ini bisa 'ditahan' di rumah, dan diolah menjadi kompos.

Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos itu adalah :

  • sampah sayur baru
  • sisa sayur basi, tapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya
  • sisa nasi
  • sisa ikan, ayam, kulit telur
  • sampah buah ( anggur, kulit jeruk, apel dll ). Tapi tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.

Sampah organik yang tidak bisa diolah :

  • protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu karena mengundang lalat sehingga tumbuh belatung
  • biji2 yang utuh atau keras seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
  • sisa sayur yang berkuah harus dibuang airnya, kalau bersantan harus dibilas air dan ditiriskan.

Kedua, semua sampah itu dicacah/dipotong kecil2/ digunting2 jadi kecil, trus masukin deh ke keranjang sakti Takakura, dan diaduk2 dengan kompos activator (kompos lama) . Setiap hari bisa dimasukin sampah baru. Untuk keluarga yang anggotanya sekitar 4-7 orang, keranjang ini akan penuh dalam waktu sekitar 2-4 bulan. Jadi kita bisa panen kompos sekitar 2-4 bulan kemudian. Dan kalau prosesnya benar, maka pengomposan ini sama sekali ngga menimbulkan bau busuk.

Dan istimewanya lagi, kompos yang dihasilkan ini bisa dipake kapan aja dan terserah berapa banyak untuk mupuk tanaman kita...

Udah deh, gitu aja...simpel kan.. Iya, kenapa kita ngga mulai mengubah kebiasaan 'membuang' sampah menjadi 'mengolah' ?

Ayo, siapa yang berminat bergabung dengan jutaan orang di seluruh dunia yang berusaha menjaga kebersihan dan kelestarian alam ?

Bersama pak Djamal di depan Kebun Karinda sebagai kebun percontohan, penyuluhan, pelatihan, termasuk juga pembibitan dan pengomposan.

12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dindadimas wrote on Jul 19, '07
kalo gak sengaja kemasukan sampah yang gak bisa diolah dalam keranjang sakti takakura apa akibatnya mba? komposnya gak bisa kepake ato tetep bisa kepake?
litauditomo wrote on Aug 9, '07
kalo gak sengaja kemasukan sampah yang gak bisa diolah dalam keranjang sakti takakura apa akibatnya mba? komposnya gak bisa kepake ato tetep bisa kepake?

wah, belum tau, yun...daku masih pemula...;-)
tapi rasanya sih masih bisa kepake kalau sampah non organik nya bisa 'disingkirkan' dari dalam keranjang takakura nya..
sekargarden wrote on Aug 23, '07
eh maaf,maksudku: Mbak
abunyasyamil wrote on Aug 25, '07
depan rumah saya, banyak banget sampah, karena kebun yang gak jelas siapa yang punya, jadi pada buang sampah rumah tangga diditu deh. Sedihnya, sampah yang gak hilang adalah sampah plastik. gimana ya, kalo sampah plastik, bisa jadi apa ? :)
sekargarden wrote on Aug 26, '07
kalau yang saya praktekan di rumah,setiap kali belanja kantung2 plastik (kresek) dilipat dan di kumpulkan,karena kantung2 plastik tersebut pasti akan di butuhkan kembali.ketika semakin banyak,sudah ada pembeli yang mau menerima kantung plastik tersebut.atau kalau kira2 nilai yang ditawarkan tidak seberapa,mending diiklaskan (sedekahkan) ke para pemulung yang lewat depan rumah.anda akan terkejut betapa sebagian orang sangat bersyukur pada sesuatu yang kita anggap tidak berguna.
litauditomo wrote on Aug 30, '07
mending diiklaskan (sedekahkan) ke para pemulung yang lewat depan rumah.anda akan terkejut betapa sebagian orang sangat bersyukur pada sesuatu yang kita anggap tidak berguna.

iya, bener...

ada sampah plastik yg memang sulit didaur ulang lagi spt plastik2 refill pewangi, sabun cuci, cairan pembersih dll. Di kebun karinda plastik2 ini didaur ulang menjadi tas belanja, dan dijual lagi...hmmm..keren juga ya idenya..
sekargarden wrote on Aug 30, '07
permasalahan sampah paling akut di daerah kota besar, karena kesibukan banyak yang memilih cara instan terutama untuk kebutuhan rumah tangga,makannya banyak banget sampah plastik.dan paling nggak sempat untuk memilah sampah organik dan non organik,apalagi mempraktekkan pembuatan kompos..pasti nggak bakal sempat/telaten.

kalau sampah rumah tangga dan taman yang dapat terdaur ulang,aku praktekin di rumah dengan cara yang suangat sederhana,menggunakan drum bekas minyak tanah,dijadikan pot,satu drum bisa jadi dua pot.

dirumah saya tanami pohon jeruk sitrun dan mangga.untuk jeruk sitrun awalnya seperti menanam tanaman pada umumnya,dengan campuran kompos dan tanah,sampah rumah tangga dan taman yang sudah dipotong2 langsung masuk ke tong/pot tsb.uniknya tong tersebut tidak pernah penuh.sampai sekarang tidak ada masalah dengan pohonnya selain subur sampai saat ini tidak ada bau yang keluar,swear!.kalau iseng sempatkan aja mengaduk2 atau menyirami,sama seperti proses menyiram tanaman pada umumnya.

percobaan ke dua:
untuk pohon mangga sengaja saya taruh di luar pagar,dan disiram dengan air got dan sisa2 daun2 yang sering berserakan di jalan.kurang sukses karena saya kurang telaten ngubek2 got..
tigorpanggabean wrote on Oct 29, '07
thanks atas sharing yg sangat bermanfaat. Gabung disini yukk.. http://olahsampah.multiply.com/
gloriboks wrote on Nov 1, '07
thanks for sharing mbak lita. aku memang sedang berusaha menggalakan gerakan memilah sampah di rumah, jadi aku lagi mengumpulkan info sebanyak-banyaknya tentang cara mengelola sampah. tadi pagi baru dapet info juga tentang mengelola sampah di tabloid rumah edisi 122 (terbit 23 okt-5 nov), menarik juga. mungkin bermanfaat juga buat mbak.
litauditomo wrote on Nov 1, '07
tadi pagi baru dapet info juga tentang mengelola sampah di tabloid rumah edisi 122 (terbit 23 okt-5 nov), menarik juga. mungkin bermanfaat juga buat mbak.

ok, tks banyak infonya ya..
annisaabdillah wrote on Apr 2
duh..pengen de bisa ngolah sampah..kayaknya paling praktis tips dari mbak deh.. tp bisa g klo pake keranjang biasa.. trus klo hrs pake takakakura, menghubungi siapa?? thks
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help