lita's posts with tag: lingkungan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag lingkungan
Blog EntryBelajar membuat lubang resapan bioporiMar 14, '08 10:38 AM
for everyone
Sejak diberitahu oleh seorang wartawan dari harian Republika mengenai lubang biopori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Bpk. Ir Kamir R Brata MSc dosen dari Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan dari IPB Bogor, saya menjelajah internet dan ketemu websitenya : www.biopori.com

Baca websitenya membuat saya yang hanya ibu rumah tangga yang awam masalah lingkungan ini jadi makin penasaran…

Bentuknya cuma lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 1 m ? Bisa mengurangi masalah banjir ? Bisa mengolah segala macam jenis sampah organik menjadi kompos ? Bisa mengurangi emisi gas rumah kaca ? Tapi bagaimana caranya ? Seperti apa bor tanah yang digunakan ? Bau ngga ? Ada tikus atau ular kah ? Dikerubuti lalat tidak ?

Wah, banyak bener pertanyannya

***

Akhirnya di suatu pagi yang cerah, sesudah mengantar anak-anak ke sekolah, saya bersama teman2 meluncur ke IPB untuk menemui Pak Wahyu dari tim biopori.

Alhamdulillah, kami bisa ‘berguru’ langsung dengan Pak Kamir himself yang dengan sabar berkenan menjelaskan panjang lebar tentang apa dan bagaimana itu biopori di kamar kerja beliau dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh ibu rumahtangga awam seperti saya..

Sebagian besar yang dijelaskan oleh pak Kamir sudah dijelaskan juga di websitenya itu.

Lubang biopori ini berfungsi sebagai lubang resapan air yang pori2 resapannya dibuat oleh ‘teman-teman’ bawah tanah kita, yang harus kita beri makan sampah organik.

“Sedikitnya ada 15 manfaat dari pembuatan lubang resapan biopori.
Sebagai penampungan sampah organik, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, menyuburkan tanah, mendukung penghijauan, serta mengurangi emisi gas rumah kaca akibat pelapukan bahan organik.

Kemudian dari aspek sanitasi, untuk menjaga kebersihan akibat daun yang dipangkas atau berguguran, mencegah polusi udara, berfungsi meresapkan air lebih optimal.

Jika biopori tersebut dilakukan secara masif oleh masyarakat, lubang resapan biopori juga akan mampu mencegah banjir dan genangan.

Manfaat lain biopori adalah meningkatkan cadangan air dalam tanah, mencegah keamblasan tanah, menghambat intrusi air laut, dan mengurangi pencemaran air.”
( Kompas, 31 Januari 2008 )

Teknis pembuatan

Sesudah cukup mendapat penjelasan ( untuk lebih jelasnya silakan mampir ke : www.biopori.com ), pak Kamir mengambil alat pengebor bioporinya dan mengajak kami membuat lubang dengan alat ‘pengebor’ yang beliau ciptakan itu. ( Wah, sayang saya ngga bawa digicam saya ).

Beberapa hal yang saya catat dari penjelasan beliau :

- Tanah yang tertutup semen dan beton - termasuk yang tertutup lumut - tidak bisa meresapkan air, maka dibuat ‘saluran’ di sekeliling nya dan buat lubang2 biopori di sana berjarak sekitar 30 cm.

- Kalau ingin membuat lubang resapan di dalam selokan yang sudah terlanjur disemen, bisa dipecah sedikit semennya.

- Kedalamannya paling dalam 1 m saja, tapi kalau ‘mentok’ sebelum 1 m krn ada batu/puing ya sudah, tidak perlu dipaksakan.

- Tinggal masukkan bornya, putar searah jarum jam, dan tarik tanahnya keluar. Saya sempat mencobanya dan ternyata mudah saja.

- Untuk ‘mulut’ lubangnya bisa diperindah dengan diberi semen atau pralon ukuran 4 inchi ( jangan lebih kecil ) selebar 2 cm..

- Kemudian masukkan sampah organik ( sampah kebun atau sampah dapur ) ke dalam lubang. Menurut beliau, sampah organik apa saja bisa dimasukkan ke lubang biopori itu…termasuk bangkai tikus ! tapi sebelum dimasukkan keluarkan dulu sebagian isinya, baru masukkan bangkai tikusnya, dan sesudahnya tutup lagi dengan isi yang tadi dikeluarkan.


- Jangan terlalu sering dipanen komposnya krn akan mengganggu keseimbangan di dalamnya -kalau mau diambil ya setahun sekali saja, kata Pak Kamir. Dan ternyata alat pembuat lubangnya itu juga berfungsi sebagai pemanen kompos.

- Kalau ingin pohon dan tanaman yang kita pelihara subur, buat saja lubang biopori di dekatnya.

- Tikus tidak akan masuk ke sana, karena lubangnya kecil dan berisi sampah, dia tidak bisa keluar mundur. Lalat juga tidak masuk karena tidak terbang vertical. Jadi usahakan sampah yang paling atas adalah sampah yang tidak mengundang lalat.

Haaa…ternyata sesederhana itu !!

Bayangkan bumi kita ini yang sudah tertutup semen dan beton, bagaimana keadaan tanah di bawahnya ? Bagaimana tanaman dan pohon bisa tumbuh dengan baik di tanah yang gersang ? Bagaimana kalau tanah di bawah rumah kita begitu keringnya ? Dan air hujan yang seharusnya jadi berkah malah terbuang dan menjadi bencana.

Dengan tindakan sesederhana itu, ternyata kita sudah dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan lingkungan !

Terima kasih banyak atas pencerahannya, Pak Kamir.
( Wah, saya bener-bener salut dengan sosok pak dosen yang bersahaja ini )
Insya Allah, saya akan menulis liputannya lagi kalau sudah dijalankan di perumahan kami.

Ayo, buat lubang resapan biopori di lingkungan kita !

Gambar diambil dari sini


Blog EntryMengolah sampah rumah tanggaJul 17, '07 12:16 AM
for everyone
"Sebagai wakil Allah SWT di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Allah SWT makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi?"

Itu adalah tulisan pak Djamaludin Suryohadikusumo, mantan menteri Kehutanan RI yang sangat peduli lingkungan, dan di masa purna tugasnya masih melakukan pekerjaan sosial bersama-sama bu Niniek - istrinya - membuat Kebun Karinda di lingkungan rumahnya yang merupakan tempat pelatihan pengolahan sampah menjadi kompos skala rumah tangga.

Selama ini, jujur, saya masih menganut paham "Jangan buang sampah sembarangan !!"
Artinya, saya juga mengajarkan anak-anak untuk 'buanglah sampah di tempat sampah'. Ternyata memang sekarang itu aja ngga cukup
.

Belakangan ini, saya memang sudah mulai sedikit-sedikit memisahkan sampah dapur (organik) dengan sampah plastik (anorganik). Tapi masih belum konsisten karena masih belum ngerti sesudah dipisahkan lalu mau diapain sampah organiknya.

Sebenernya sih, sudah lama juga saya pengen ikut pelatihan di kebun karinda, tapi kesempatan itu baru ada kemarin. Sesudah kebun TOGA ( tanaman obat keluarga ) mulai berjalan di lingkungan kami, kami pengurus arisan berpikir mungkin program berkebun ini bisa 'disambung' dengan program pengolahan sampah rumah tangga.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya dapat kesempatan bicara di depan forum arisan ibu-ibu mengenai pengolahan sampah rumah tangga. Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada mereka adalah "Bagaimana cara ibu 'membuang' sampah ?"

Hampir 100% mengatakan "Buang segala macam sampah ke tempat sampah dalam rumah, masuk dalam plastik kresek, diiket, buang ke tempat sampah depan rumah, lalu diangkut deh oleh petugas kebersihan..."

Ok, lalu....dibawa ke mana sampah-sampah itu oleh petugas kebersihan di perumahan ? Sebagian besar ibu masih bisa menjawab, dibawa ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tapi sesudah dari sana entah diangkut ke mana lagi oleh petugas Dinas Kebersihan Kota.

Yang jelas, sebagian besar kita yang tinggal di perumahan - termasuk saya - merasa sesudah sampah hilang dari pandangan mata kita, kita menganggap sudah menjaga kebersihan lingkungan.

Padahal sebenernya, sampah kita yang mungkin cuma 1 kantong plastik 'kresek', sampai di TPS bergabung dengan 'teman2nya' sesama kantong plastik 'kresek' di satu perumahan itu menjadi bukit 'kecil', bau, kotor, dan jadi sumber penyakit.

Belum selesai di sini, mereka semua ( kantong2 plastik kresek ) diangkut lagi dan berkumpul lagi dengan 'teman2nya' di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) menjadi gunung 'besar' yang jelek, bau, kotor, beracun dan beratnya berton-ton ! Dan di sana juga numpuk ngga bisa diapa-apain, karena semua bercampur baur...

Lalu muncullah berita, TPA di daerah sana longsor menimpa rumah2 penduduk, atau Bandung menjadi lautan sampah, dst. Belum lagi banjir, penyakit dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah2 itu.

Kita cuma bisa prihatin dan mungkin yang ada dalam benak kita...aah, kan kita 'cuma' berkontribusi menyumbang 1 kantong plastik 'kresek' aja sehari kok. Bener ngga ?

Sesudah itu saya juga masih bertanya,"Apa ada ibu yang membakar sampahnya ?" Alhamdulillah semua menjawab,"Wah, kalau dibakar kan polusi". Iya memang, selain polusi dan bisa 'dipentung' tetangga, juga bisa memperparah pemanasan global.

Dan mudah2an sih, ngga ada di antara teman-teman yang menganggap jalan dan sungai itu adalah tempat sampah raksasa..hehehe...

Hmmm...rasanya kok ngga adil ya kalau kita sebagai manusia penghasil sampah cuma bisa menyalahkan Dinas Kebersihan kota kalau ngeliat sampah kota berserakan di mana-mana, dengan alasan "Kan kita sudah bayar uang kebersihan" selanjutnya kan jadi urusan pemerintah kota...

Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan ?

Kita harus merubah mind set kita dari "buang sampah pada tempatnya" menjadi "jangan malas memilah sampah". Mulai dari diri kita sendiri, dari rumah tangga kita sendiri aja dulu..

Saya juga sempet berpikir, duh, kayaknya kok susah ya mengolah sampah jadi kompos....gimana caranya yaaa ??

Alhamdulillah, kemarin saya dan keluarga bersama teman-teman kompleks perumahan tempat saya tinggal, bisa belajar mengolah sampah dan pembibitan tanaman di Kebun Karindanya Bapak Ibu Djamaludin.

Dan ternyata...bapak ibu Djamal bisa membuat pekerjaan yang tadinya ( di mata saya ) keliatannya susah dan sangat teoritis, jadi keliatan sederhana...dan bisa langsung dipraktekin di rumah, terutama karena blio juga menyediakan keranjang sakti tempat pengomposan, lengkap dengan petunjuk penggunaannya.

keranjang sakti Takakura

Ini sebagian ilmu yang bisa saya share di sini tentang bagaimana mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

Pertama, pilahkan sampah organik ( sampah dapur dan halaman ) dan sampah non organik. Komposisi terbesar dari sampah rumah tangga sekitar 70% sebenarnya adalah sampah organik. Dan ini bisa 'ditahan' di rumah, dan diolah menjadi kompos.

Jenis sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos itu adalah :

  • sampah sayur baru
  • sisa sayur basi, tapi ini harus dicuci dulu, peras, lalu buang airnya
  • sisa nasi
  • sisa ikan, ayam, kulit telur
  • sampah buah ( anggur, kulit jeruk, apel dll ). Tapi tidak termasuk kulit buah yang keras seperti kulit salak.

Sampah organik yang tidak bisa diolah :

  • protein seperti daging, ikan, udang, juga lemak, santan, susu karena mengundang lalat sehingga tumbuh belatung
  • biji2 yang utuh atau keras seperti biji salak, asam, lengkeng, alpukat dan sejenisnya. Buah utuh yang tidak dimakan karena busuk dan berair seperti pepaya, melon, jeruk, anggur.
  • sisa sayur yang berkuah harus dibuang airnya, kalau bersantan harus dibilas air dan ditiriskan.

Kedua, semua sampah itu dicacah/dipotong kecil2/ digunting2 jadi kecil, trus masukin deh ke keranjang sakti Takakura, dan diaduk2 dengan kompos activator (kompos lama) . Setiap hari bisa dimasukin sampah baru. Untuk keluarga yang anggotanya sekitar 4-7 orang, keranjang ini akan penuh dalam waktu sekitar 2-4 bulan. Jadi kita bisa panen kompos sekitar 2-4 bulan kemudian. Dan kalau prosesnya benar, maka pengomposan ini sama sekali ngga menimbulkan bau busuk.

Dan istimewanya lagi, kompos yang dihasilkan ini bisa dipake kapan aja dan terserah berapa banyak untuk mupuk tanaman kita...

Udah deh, gitu aja...simpel kan.. Iya, kenapa kita ngga mulai mengubah kebiasaan 'membuang' sampah menjadi 'mengolah' ?

Ayo, siapa yang berminat bergabung dengan jutaan orang di seluruh dunia yang berusaha menjaga kebersihan dan kelestarian alam ?

Bersama pak Djamal di depan Kebun Karinda sebagai kebun percontohan, penyuluhan, pelatihan, termasuk juga pembibitan dan pengomposan.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help