lita's posts with tag: pendidikan
 Remaja cowok ini adalah salah satu murid pianoku yang berbakat. Belajar piano sejak kelas 4 SD, sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA.
Selain berbakat main piano, dia juga sukses di akademis. Sempat jadi siswa teladan sepropinsi Jawa Barat waktu SD. Sekarang sekolah di SMA favorit di kota ini.
Lulus ujian piano selalu dengan nilai sangat memuaskan, bahkan ketika dia juga harus belajar untuk ujian nasional SMP tahun lalu.
Selalu mendapat perhatian ketika tampil di konser siswa tahunan sekolah musikku, dan mendapat applause meriah sewaktu tampil membawakan Toccata in D minor gubahan J.S. Bach.
Benar-benar seorang remaja yang potensial…
Bulan depan, dia akan ikut ujian kenaikan tingkat di sekolah musik ku. Tapi sampai sekarang, dia belum menguasai satupun materi ujian yang diberikan !
Kenapa ? “Ngga sempet latihan. Banyak PR dan tugas di sekolah”
Dan mamanya menelpon aku kemarin, dan bercerita panjang tentang putranya. “Dia masuk ke kelas internasional, mbak. Jadi pelajaran science dikasih dobel, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, makanya dia pulang sekolah lebih sore daripada temen-temennya di kelas regular. Pulang sekolah, masih ada aja PR dan tugas yg harus dikerjain. Aduh, gimana ya, mbak ?”
“Kalau hari sabtu minggu gimana, mbak ? bisa latihan ?”
“Nah, itu dia. Hari Sabtu Minggu dia juga ada les sekarang. Les semua pelajaran science.”
Haaa ? *gubrak*
“Iya, mbak. Waktu SMP dia ngerasa dia itu bisa, orang lain ngga bisa. Sekarang, dia ngerasa bisa, tapi lebih banyak temennya yang lebih bisa ! Jadi waktu dia diajak temen2nya untuk ambil les tambahan, dia ikutan aja. Jadinya ya gitu deh, mbak, dia jadi ngga sempet latihan piano. Tapi disuruh berhenti les piano juga dia ngga mau. Gimana dong ?“
Saya hanya bisa memberi solusi seperti ini.. “Mungkin harus bikin prioritas apa yg harus dilakukan, mbak. Untuk pianonya, krn dia mau menghadapi ujian sebentar lagi, prioritaskan dia untuk bisa latihan rutin setiap hari. Nanti kalau sudah selesai ujian, kalau ngga sempat latihan ya saya bisa memaklumi.”
***
Begitulah memang kebanyakan remaja sekarang… Waktunya habis untuk mengejar prestasi akademis.
Menurut pengamatan saya, seringkali memang lingkungan yang membentuk orangtua dan remaja berpikir bahwa prestasi akademis adalah yang terpenting, dan ini menjadi target.
Persepsi pintar adalah pintar di bidang akademis...
Kalau anak pintar di sekolah, tentu nantinya banyak kemudahan yang mereka dapat. Dapat beasiswa, cari kerjaan gampang...dst...
Salahkan pola pikir seperti itu ?
Saya tidak bisa mengatakan salah atau benar, karena sah-sah saja punya pola pikir yang berbeda. Tapi jujur, saya pribadi tidak ingin anak-anak saya menghabiskan waktu dengan belajar pelajaran sekolah saja.
Kalau melihat prestasi akademis mereka - anak-anak saya - , alhamdulillah saya bersyukur… Nilai-nilai di sekolahnya selalu bagus, sempat mendapat medali di olimpiade science tingkat nasional, juara lomba ini itu, dan mendapat beasiswa karena prestasinya..
Tapi kemudian, menjadi terlalu berlebihan dalam pandangan saya, ketika mereka harus dikarantina hanya untuk belajar fisika dan biologi saja, dan masih juga harus mengerjakan science project untuk suatu ajang olimpiade di Amerika..
Menurut saya, sekolah seharusnya adalah tempat untuk mencari ilmu. Menjadi pandai dan berprestasi adalah ‘efek’ dari penguasaan ilmu itu.
Sama juga dengan belajar piano atau belajar yang lain.. Ujian adalah bagian dari pendidikan, sebagai alat ukur apakah murid sudah menguasai ilmunya atau belum..
Tapi kalau yang menjadi ‘target’ adalah nilai rapot, sertifikat, medali, dan piala, sampai rela menghabiskan waktu dan uang untuk membeli soal ujian, drilling mengerjakan ratusan soal, bimbel dan les mata pelajaran…...
Kapan anak-anak mempunyai waktu mengembangkan diri untuk bergaul, bersosialisasi, belajar menguasai suatu ketrampilan, dan mendalami hobinya ?
gambar diambil dari sini
Beliau masih terhitung sepupu saya, meski umurnya terpaut belasan tahun dengan saya. Anehnya, dalam profesinya sekarang, beliau yang dulu kuliah di jurusan Astronomi ITB, malah banyak dikelilingi model-model cantik..
Ya, berkat hobby fotografinya, beliau menjadi fotografer professional yang menghasilkan banyak karya indah mengagumkan, tengok saja galerinya di sini.

Bahkan seorang model Tiara Lestari sempat menulis PS. terimakasih khusus untuknya di blognya untuk foto2nya waktu tampil di acara Kick Andy di tahun 2006.
Beliaulah si Unyil itu....
Kami ‘bertemu’ kembali di dunia maya dalam suatu mailinglist sekitar tahun 2000. Dan dalam salah satu emailnya beliau menulis sejarah si Unyil ini :
18 Februari 2000
Ibu saya punya adik laki laki yang saya panggil Pak Le. Namanya Kurnain Soehardiman, sekarang beliau sudah almarhum.
Hobby Pak Le membuat film ... Dari film "Kuntilanak", " Lampu Merah" sampai juga iklan obat memakai kartun. Dulu Pak Le pernah tinggal dirumah saya ... Itu yang namanya rol film besar besar, ada alat yang dapat melihat film satu satu dan dapat mengedit sambungan film dengan Acceton. Jiwa filmnya bergulir terus sampai beliau membuat cerita boneka yang berseri di TVRI.
Saya diajak untuk dubbing suara karena, ”Judulnya adalah nama kamu ", kata beliau. Memang waktu itu saya sering dipanggil si Kunyil, tetapi Pak Le menyingkatkan menjadi Unyil. Tetapi karena saya kuliah di Bandung jadi ya nggak bisa.
Memang tadinya cerita si Unyil adalah cerita dari keluarga sendiri, yang dibuat sedemikian rupa. Tokoh Mei Lan itu sebenarnya karena ada familiy yang masih kecil mukanya lucu seperti Mei Lan ...sekarang dia sudah jadi Dirut suatu perusahaan...hehehehe...itu yang saya tahu.
Diangkat dari cerita Sunda/Jawa dan keluarga maka cerita itupun beruntai sampai berpuluh puluh episode. Pengambilan gambar ditempat PFN di Kebon Nanas didepan Grasera dulu (Graseranya sekarang sudah tidak ada). Saya melihat kegelapan ruangan studio yang besar itu ,takut rasanya ..... tetapi oleh karena ingin melihat boneka si Unyil ....ya...nggak apa apa.
Saya pernah diajak Pak Le ke rumahnya di Sukabumi . Beliau menunjukan pada saya tempat membuat cerita ... disebuah kamar dengan pandangan ke bagian depan ada balongnya ...disitu tenteram sekali.
Waktu itu saya senang membuat boneka sarung dari kain bekas ibu dan dijahit. Tampaknya juga mengilhami beliau untuk menjadikan "Duit"
Banyak cerita menyinggung kehidupan sosial dan sekitarnya. Sayang Oom Le/Pak Le sudah tiada ...maka berhentilah cerita unyil tersebut.
Cis Kacang buncis nyencle........
siapa yang akan melanjutkan kreasi beliau untuk anak anak?
saya ingat main musik di ITB pakai lagu ini waktu itu mbak Lita masih TK
Julianto YC0DNW Pak Le Kurnain Suhardiman memang sudah tiada, tetapi karyanya menjadi legenda di tanah air Indonesia. Siapa yang tidak kenal film boneka Si Unyil yang ditayangkan di TVRI tahun 1981 – 1993.
Dan pertanyaan mas Julianto terjawab, karena sejak tahun 2007 tokoh si Unyil ini mulai dihidupkan lagi menjadi Laptop si Unyil yang ditayangkan di Trans7 setiap hari Senin – Jumat, pk. 12.30 WIB.
 Salah satu dari sedikit program TV yang bagus buat pendidikan anak-anak.
Sampai di sini dulu teman-teman...Merdeka !!
Dikutip dari media harian : Jurnal Nasional
9 Pertanyaan untuk Lita Uditomo: Bangkitkan Pramuka di Perumahan
Rabu, 13 Feb 2008 PADA masa Orde Baru, rata-rata kepala sekolah dasar dan menengah mewajibkan siswa mereka mengikuti latihan pramuka. Bahkan, ada hari khusus berseragam Pramuka. Kebijakan ini menyalahi prinsip dasar Pramuka, yakni sukarela. Kebijakan itu juga memaksa guru, yang belum tentu suka, menjadi pembina. Akibatnya, mereka menyampaikan materi secara massal di dalam kelas. Padahal, metode kepramukaan mengajarkan sistem beregu, tanda kecakapan, dan latihan di alam terbuka.
Lita Uditomo, seorang ibu rumah tangga, yang sehari-hari mengajar les piano, mencoba menghidupkan kembali gerakan pramuka di perumahan, bersama suami dan teman-temannya. Apa alasan alumni Jurusan Matematika, Institut Teknologi Bandung ini memilih pramuka untuk dihidupkan sebagai kegiatan di perumahannya? Berikut petikannya wawancara Jurnal Nasional dengan adik pakar IT Onno W. Purbo ini, akhir bulan lalu di Depok.
1. Bisa diceritakan bagaimana terbentuknya gudep (gugus depan) pramuka di perumahan Griya Depok?
Awalnya memang tidak terpikir. Sejalan dengan tumbuhnya anak-anak kami menjadi remaja, kami merasakan sulitnya mereka mengembangkan diri, karena tidak adanya wadah yang memadai. Kami juga merasakan kuatnya arus negatif dari lingkungannya. Bagi kami, pintar secara akademis saja tanpa diimbangi dengan kemampuan bersosialisasi, berorganisasi, kepekaan terhadap lingkungan dan penguasaan suatu keterampilan (life skills) rasanya tidak cukup untuk bisa menjadi bekal hidup mereka pada masa yang akan datang.
Berawal dari sinilah, kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk mengisi acara peringatan 17 Agustus, dan peringatan hari besar Islam dengan performance remaja seperti ensemble musik, vokal grup dan operet. Seringnya berkumpul untuk latihan itu ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan di antara mereka. Komunitas mereka otomatis terbentuk.
2. Usulan langsung dijalankan?
Suami tertarik sesudah membaca AD/ART Gerakan Pramuka di website Kwartir Nasional. Waktu itu saya tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya membentuk gudep. Apakah mungkin orang yang sudah lama sekali tidak terlibat dengan kegiatan kepramukaan lalu membentuk gudep? Kebetulan saya punya teman yang pekerjaannya membina pramuka di sekolah-sekolah. Dia mengenalkan kami pada temannya yang juga pembina pramuka. Beliau antusias mendukung terbentuknya gudep teritorial ini, dan memberikan bimbingan bagaimana caranya dan apa syarat-syarat membentuk gudep. Kami pun diberi buku Kursus Mahir Dasar ( KMD ), dan menyarankan kami untuk ikut kursus ini atau pelatihan untuk pembina pramuka juga. Sesudah semua siap, kami sepakat untuk memulai kegiatan pramuka ini pada Februari 2007.
3. Apa kendala awalnya?
Terbatasnya sumber daya pembina. Apalagi, kami kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan kerja sama dengan teman pembina itu, karena ketidaksesuaian idealisme. Kami lalu sempat bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya saya memberanikan diri menceritakan masalah ini ke mailinglist pramuka . Alhamdulillah, direspons dengan baik.
Beberapa teman menyarankan supaya saya dan suami yang terjun langsung menjadi pembinanya. Menurut mereka, pada dasarnya orang tua adalah pembina anak-anaknya. Yang penting jadi pembina pramuka itu dasarnya harus sukarela dan ikhlas. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk terjun langsung. Selama beberapa minggu berjalan, semua hal kami tangani berdua saja. Mulai menyusun program latihan mingguan, melatih setiap minggu pagi, sampai mengurusi administrasi dan perlengkapan gudep.
4. Apa sebenarnya kelebihan Pramuka?
Kami ingin anak-anak dan remaja mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya, pramuka adalah kendaraan yang paling tepat. Di pramuka mereka bisa belajar pertolongan pertama pada kecelakaan, sains dan teknologi, musik, menggambar, masak, menulis, akting, menjahit, berkebun. Pendeknya di pramuka anak-anak bisa belajar apa saja sesuai minat dan bakat mereka. Tidak cuma teknik kepramukaan seperti semaphore, morse, baris berbaris, dan tali temali saja.
Selain itu di pramuka anak-anak juga belajar bersosialisasi, bekerja sama, berorganisasi, dan melatih kepemimpinan sejak usia siaga (SD) sampai usia dewasa dengan sistem barung, regu, sangga, racana. Jadi bisa dibilang pramuka itu kegiatannya 'multiple intelligence'. Dan karena semua kegiatannya berbasis pada Satya (janji) dan Dharma (moral), Insya Allah outputnya adalah pemimpin yang berkarakter, dan menjunjung nilai-nilai luhur. Menurut pengalaman saya yang mempunyai anak-anak yang sekarang sudah remaja, pendidikan seperti ini tidak bisa mereka dapatkan baik di rumah maupun di sekolah.
5. Bukankah di sekolah masing-masing mereka sudah mendapatkan kepramukaan?
Pendidikan kepramukaan adalah pendidikan ketiga sesudah pendidikan di rumah dan di sekolah. Kegiatannya berbentuk outbond di alam terbuka, bukan kegiatan di dalam kelas. Kami memilih basisnya di perumahan karena memang awalnya dibentuk untuk mewadahi kegiatan anak-anak dan remaja di lingkungan perumahan kami dan sekitarnya.
6. Bagaimana tanggapan warga perumahan?
Alhamdulillah, cukup banyak orang tua yang menanggapi positif kegiatan ini dan berhasil mendorong putra dan putrinya untuk ikut. Sekarang sudah ada sekitar 35 anak dari siaga, penggalang sampai penegak yang bergabung, dengan 5 orang pembina yang semuanya adalah orang tua dari anak-anak pramuka. Tapi, ada juga yang memprihatinkan, karena ada anak yang berminat ikut pramuka tapi tidak diizinkan orang tuanya. Tantangan kami memang mengubah citra masyarakat terhadap pramuka. Kegiatan ini masih dinilai tidak keren, kampungan. Malah ada yang menilai kegiatan ini corong pemerintah. Jadi kendalanya bukan dana atau teknis pelaksanaannya, tapi mengubah citra.
7. Apakah dana memang bukan kendala?
Alhamdulillah, kebetulan kami bisa mandiri tidak tergantung pada sponsor/donor ataupun kwartir. Modal awal bisa dibilang tidak ada, hanya untuk administrasi dan perlengkapan gudep seperti bendera. Untuk operasional kegiatan mingguan seperti peralatan dan perlengkapan memang semua didanai para pembinanya, yang juga warga perumahan. Kebetulan, para pembina adalah pekerja profesional berpendidikan S1 dan S2 yang di tengah kesibukannya dengan sukarela dan ikhlas meluangkan waktu dan tenaganya untuk bergabung membina anak-anak. Iuran bulanannya yang Rp.20.000, menjadi tabungan kegiatan outing setiap liburan. Kadang-kadang kami juga minta bantuan dana tambahan dari Masjid Al Mukhlishun untuk kegiatan outing, kalau masih kurang.
8. Anak didik selalu antusias?
Kebosanan mungkin ada. Kami harus bisa 'tarik ulur' untuk membina mereka. Harus gaul juga. Kami berusaha terus untuk tetap kreatif dan inovatif. Ke depannya insya Allah anak-anak penggalang sudah bisa lebih mandiri. Pembina hanya mendampingi.
9. Tidakkah tergerak untuk membuat kampanye ke perumahan-perumahan lain?
Sebenarnya, kami mengharapkan media bisa mempromosikan terbentuknya gudep-gudep teritorial/wilayah. Kami lebih fokus pada pengembangan gudep sendiri. Tapi saya membuat blog khusus untuk kegiatan pramuka di www.pramukakita.multiply.com. Selain untuk dokumentasi kami, sarana untuk memperluas jaringan, Insya Allah dapat menambah wawasan teman-teman yang berniat mendirikan gugus depan di lingkungannya. Ke depannya, blog ini bisa menjadi sarana peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menulis, dan pengetahuan teknologi.
Thonthowi Dj
Berita di Koran Tempo, 6 Februari 2008 " Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Fasli Jalal menyatakan saat ini di Indonesia ada 740.206 lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Mereka terdiri dari atas 151.085 lulusan D-1 ataupun D-2, 179.231 lulusan D-3 dan 409.890 lulusan universitas. Mereka tidak bekerja karena kompetensi tidak sesuai, lulusan yang tidak terserap, memilih tidak bekerja, atau mehasiswa lulusan dari program studi yang sudah jenuh " Jujur...saya sendiri sering merasa 'miris' dengan sistem pendidikan di Indonesia ini… Berprestasi di sekolah, pintar secara akademis - baca : berhasil jadi sarjana - tanpa punya 'spesialisasi' atau ketrampilan tidak bisa menjamin seseorang sukses dalam hidupnya -ternyata-
Tapi memang kasihan juga anak sekarang… Sejak kelas 1 SD materi pelajarannya aja udah seperti itu.. Makin gede, makin susah…anak saya yang paling besar yang sekarang duduk di kelas XI bahkan sempat ambil kuliah virtual dari MIT dan berkomentar “Kuliah di MIT kok lebih gampang daripada pelajaran di sekolah ya ?”
Sistem pendidikan di Indonesia mengharuskan anak-anak mempelajari banyak disiplin ilmu, bahkan mungkin terlalu banyak, tapi ngga punya spesialisasi dan ngga menguasai konsep… Padahal sekolah sampai sore, ditambah bimbel, les pelajaran ini dan itu sampai ngga sempat lagi belajar life skills bahkan mungkin ngga sempat gaul ! Jenuh, pelariannya main ke warnet dan nongkrong di mall.. Duh, apa kabar Indonesia kelak ya.... 
Baca di koran tempo hari ini.. Ini salah satu kisah 'memprihatinkan' yg diceritakan Dr. Boyke berdasarkan penuturan pasiennya.. Seorang remaja putri berusia 12 tahun diledek temannya karena belum pernah pacaran dan berciuman. Karena penasaran, remaja itu lalu mencari tahu di internet. Tertarik mempraktekannya, ia meminta dan membayar sopir pribadinya. "Tidak hanya ciuman, si sopir bejat itu justru mengajak tahap yang lebih hot yaitu bercinta. Akibatnya,si kecil ketagihan, kebablasan, hingga hamil dan bikin gempar semua ( anggota keluarga )" Diskusi yuk..

|  | Di hari minggu yang cerah, 6 Januari 2008, dalam rangka mengisi liburan, anak-anak Pramuka Siaga Griya Depok Asri diajak berpetualang 'cinta alam' ke 99 Trees Community, Desa Meruyung.
Di sana mereka belajar mengenal pepohonan, menanam pohon, memanen bayam, menangkap ikan, sampai memasak sayur dan ikannya pakai kayu bakar !
O,ya, sempet naik sampan juga lho...:)
Bener2 petualangan yang mengasyikkan... Dan sebenarnya kami pembina memilihkan paket itu dengan harapan adik-adik siaga belajar mengenai 'proses' bagaimana makanan bisa sampai di meja makan di rumah mereka :)
Mau ikut ngerasain serunya petualangannya ? mampir yuk ke... http://pramukakita.multiply.com/photos/album/18/Kampung_99_Pepohonan_6_Jan_2008
|
Awal liburan kemarin, dari tg.23 -25 Desember 2007, adik-adik penggalang PGDA ( Pramuka Griya Depok Asri ) ikut kegiatan camping "Survival kota" a.k.a "Latihan Dasar Kepemimpinan" di Bandung.
Kayak apa tuh kegiatannya ? Yang jelas serruuu abizz !! Perjalanan dengan bis umum, petualangan misteri mencari seseorang di Taman Ganesha, petualangan di warnet, menjelajah ke pemukiman padat penduduk yang penuh sampah , mewawancarai warga mengenai sampah, membuat cinderamata dari sampah, mencari tahu hewan-hewan yang dilindungi, berjalan kaki di tengah alam yang masih gelap... cuma sebagian kecil dari kisah petualangan yang mengesankan mereka...  Ini dia kesan-kesan mereka.. Yang ditulis di Forum Tunas Kelapa's Lounge"Acaranya seru abis dari awal sampai akhir yang ga ikut bakalan nyesel. Apalagi di tambah dengan ka rangga dan kawan-kawan acaranya makin seru deh........... semoga dengan acara ini di buat pramuka Indonesia makin maju. Amin" ( Insani – 13 th )
"waktu kita pengen ke tempat kemah, rizky itu udah tau rumahnya jadi kita waktu itu lewat jalan pintas yang biasanya rizky lewatin lewat kantor apa gitu yang di deket situ terus kita di suruh jalan sampai ujung kantor dan ternyata eh ternyata dengan keadaan lelah pagernya di gembok jadi kita ga bisa lewat situ udah capek harus balik lagi terus saat ingin keluar dari kantor ada gedung yang memperkecil jalan tapi karna ga ada tangganya dan da sampingnya ada pager eh jadinya riyan sama andre lompatin pager penghalang terus merosot pake pipa palaron ke bawah. eh............... ternyata dari andre dan riyan lompat satpamnya ngeliatin eh semiuanya kabur tinggal ka putri, tania sama farah di introgasi satpamnya untungnya satpamnya baik jadi ga di apa apain cuman di kasih tau tapi matanya si udah melotot ." ( Insani – 13 th )
"Acaranya waktu LDK seru bangetss! Tapi yang paling seru kataku sih yang mau ke goa belanda dan jepang. Bayangin! Kita jam 04.15 nyampe disana (kebayang dong gimana gelapnya), harus melewati tanah dan batu yang semuanya licin, dan dinginnya itu loh. Brrr! tapi,disana kan aku diajarin sama kak putri kalo lagi susah kayak gini mesti baca "Subhanallah Walhamdulillah Walla illahaillalah Huwallahu Akbar". Aku baca itu terus. Pas aku lagi berhenti (kan capek) nggak tau siapa yang gerakin, kaki aku gerak sendiri! Subhanallah! Tapi, pas disuruh berhenti kan yang lain mungkin bilang 'hore' atau 'yes', tapi kakiku malah pegel, pengennya jalan terus.
Kira-kira itu yang menurut aku paling seru, tapi secara keseluruhan semuanya acaranya keren2. Aku jadi tau nama-nama latin binatang (walaupun nggak hapal tapi kan jadi tau). Aku juga ngerasain betapa enaknya naik MGI apalagi bareng temen-temen, jadi aku mau bilang : MAKASIH KEPADA SEMUA ORANG YANG MEMBANTU MENSUKSESKAN ACARA INI!!!!" ( Tania – 10 th )
"Tadinya tuh aku mau gak ikutan soalnya aku mau ikutan jambore anti narkoba (dari pramuka sekolah) yang diadakan tanggal 23 Desember 2007. Yang ikutan anak pramuka sama anak OSIS. Tapi, ada kabar kalo anak pramuka yang ikutan jambore bakal jadi "babu" (maksudnya yang disuruh-suruh, misal suruh diriin tenda, masak buat anak2 dan pembina, dll) disana. Jadi temen2 pramuka yang deket sama aku pada gak mau ikut. Alesannya gak boleh sama orang tua. Aku jadi gak berminat, alhasil aku ikutan LDK PGDA.
Yang menurutku paling berkesan dari LDK itu adalah:
1. Belanja untuk makan malam, terutama mencari sosis, yang ketemunya di rumah supplier nya. Yang paling tidak menyerah untuk mencari sosis adalah Insan. Kalo gak ada dia, kita gak bakal makan nasi goreng pake sosis, deh!!
2. Wide Game nya amat sangat seru!! kelompokku nyasar ke pos tiga dan ditanya," Mau ulang ke pos satu, apa gagal aja?" Tadinya sih maunya gagal aja, abis ngerasa capeeek banget. Tapi karena kita gak pengen di hina-hina, kita lanjut aja! Tapi pas jalan lagi, rasanya gak terlalu capek lagi, tuh!
3. Pas lagi jurid malem (Subuh kali, yee) Itu juga seru banget. Kita berangkat jam 03.35 pagi!! Kita masih pada teler semua. Terus kita sholat subuh disana. Bbrrrr... udara dan air disana dinginnya bukan main!! Setelah sholat subuh, kita jalan menuju Goa Belanda. Jalannya dipenuhi batu2 dan tanah yang licin, udah gitu sendalku licin banget. Uhh... aku sungguh sial pake sendal itu. Aku jalan bareng Tania dan Kak Putri di belakang. Aku udah ngeluh aja karena aku gak tahan sama sendalku yang licin itu. Tapi, lama kelamaan aku semangat lagi dan berjalan cepat (namun tetap berhati-hati) menuju ke barisan paling depan. Akhirnya aku, Tania, dan kak Putri memimpin, deh! Kita juga duluan nyampe di Goa Belandanya. Tapi gak cuman kita bertiga aja yang duluan, ada Raka, Andre, dan Ardhi (Kalo gak salah, ya!!) yang duluan nyampe. .
Pulang dari Maribaya, kita semua sarapan bubur ayam dulu disebuah restoran (Lupa namanya). Kita kira bakal sempet untuk mandi dulu, tapi karena travelnya udah nyampe, jadi udah gak bakal sempet mandi dulu, deh (Ugh... Bauknya bukan main!!)
Setelah pulang dari sarapan, kita langsung beres2 dan pamitan sama eyang, trus penyerahan topi emas, dan topi emas tersebut didapatkan oleh Insan. Yah... itu sih udah pasti Insan yang dapet! Oya lupa, kita juga bilang "Terima kasih" sama Kak Rangga. Trus, kita pulang, deh! Sebelum itu, kita mampir ketempat oleh2 untuk beli oleh2 buat keluarga atau dimakan sendiri. Setelah itu, langsung kita pulang hingga sampai tujuan... Itu aja pengalamanku.
Semoga makin banyak lagi pengalaman yang akan aku terima di lain hari. Daaaag! " ( Farah – 13 th )
"Semoga perkembangan selanjutnya dapat meng"enjoy"kan semua member yg telah terdaftar di TKL. ( TKL = Tunas Kelapa’s Lounge http://www.pramuka.forumotion.com/ ) aku sebagai penggalang PGDA mengucapkan Terima Kasih atas semua yg diberi kakak2 PGDA GoodBye........................HAHA........." ( Andre – 13 th )  Seru kann.. PGDA kreatif..PGDA innovatif... Ru seru seru..ru seru seru..ru seru seru..Ru !! PGDA SERRU!!
Tengok foto-fotonya disini deh.. http://pramukakita.multiply.com/photos/album/16/Latihan_Dasar_Kepemimpinan_23-25_Des_2007
| |