lita's posts with tag: pendidikan piano
 Beberapa waktu lalu seorang sahabat blogger menanyakan manfaat belajar musik bagi anak. Hmm, pertanyaan yang menarik... Dari banyak literature yang pernah saya baca, berdasarkan penelitian, mendengarkan musik saja mempunyai banyak manfaat, yaitu : dapat mengarahkan perilaku positif, sebagai therapy mencegah dan menyembuhkan penyakit, juga meningkatkan kreativitas dan intelligensia. Bagaimana kalau belajar memainkan instrument musik ? Monty P.Satiadarma, seorang praktisi psikologi yang juga pemain musik dan memperdalam ilmunya dalam bidang Art Therapy menuliskan beberapa data temuan dalam bukunya : “Habermeyer ( 1999 ) mengemukakan adanya sejumlah temuan ilmiah spt berikut : Seorang peneliti, Donald Hodges, mengemukakan bahwa.. bagian otak yang dikenal sebagai planum temporale dan corpus callosum memiliki ukuran lebih besar pada otak musisi jika dibandingkan dengan mereka yang bukan musisi Kedua bagian ini bahkan lebih besar lagi jika para musisi tsb belajar musik sejak usia yang masih sangat muda yaitu di bawah usia 7 tahun. Gilman dan Newman ( 1996 ) mengemukakan bahwa planum temporale adalah bagian otak yang banyak dalam proses verbal dan pendengaran, sedangkan corpus callosum berfungsi sebagai pengirim pesan berita dari otak kiri ke otak kanan dan sebaliknya. Perbedaan ukuran pada kedua bagian otak ini lebih tinggi pada mereka yang dikategorikan sebagai musisi, dibandingkan dengan mereka yang bukan musisi. Hal ini juga memberi pengertian bahwa latihan musik memberikan dampak tertentu pada proses perkembangan otak. “ “Dr. Gottfried Schlaug dari salah satu RS besar di Boston mengemukakan bahwa... musisi laki-laki memiliki ukuran otak yang lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki yang bukan musisi Dr. Schlaug memperoleh data bahwa bagian otak musisi laki2, khususnya pada daerah yg dikenal sbg cerebellum yg mencakup 70% dari seluruh saraf otak, berukuran 5% lebih besar dari mereka yang bukan musisi. Ia merasa yakin bahwa terjadinya perbedaan besaran otak ini ditimbulkan oleh adanya proses latihan musik yang berkesinambungan. Khususnya bagi para pemain musik, latihan ketrampilan memainkan alat musik tertentu memberi pengaruh pada pertumbuhan ukuran cerebellum.” “Dr.Frank Wilson, seorang professor dari Fakultas Kedokteran Universitas California mengemukakan bahwa... belajar musik akan meningkatkan perkembangan otak dan seluruh system saraf Di samping itu, iapun mengemukakan bahwa ada sejumlah saraf motorik yang berkembang secara spesifik hanya karena adanya proses latihan bermain musik.” “Begitupun dengan pendapat Dr. Jean Houston dari Foundation of Mind Research memiliki keyakinan bahwa... pendidikan musik membantu perkembangan ketrampilan anak di dalam kemampuan membaca, menulis dan matematika ****** Orangtua saya memang mengirim 3 dari 4 anaknya untuk belajar musik waktu kami masih di usia SD dulu. Kakak-kakak saya belajar gitar klasik dan saya belajar piano klasik. Kemudian mereka ( kakak2 saya ) lulus kuliah dengan predikat cum laude, menjadi lulusan terbaik di fakultasnya, dan mendapat beasiswa melanjutkan sekolah ke LN. Apakah itu karena mereka belajar musik waktu kecilnya ? Saya betul-betul tidak tahu apakah memang benar ada korelasinya. Tapi, kalau menurut saya pribadi, manfaat dari belajar musik tentu saja adalah bisa memainkan alat musikDan menguasai suatu ketrampilan ( apapun ketrampilannya itu, termasuk bermusik ) akan memberikan banyak manfaat,salah satunya adalah dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dan ternyata juga, belajar musik waktu kecil dulu sangat bermaanfaat buat saya karena sekarang saya dapat berbagi ilmu dari penguasaan ketrampilan itu. Bisa punya penghasilan tanpa harus meninggalkan anak-anak  Ada yang punya pengalaman mengenai belajar musik ? Yuk, kita berdiskusi.. Gambar diambil dari sini
 Remaja cowok ini adalah salah satu murid pianoku yang berbakat. Belajar piano sejak kelas 4 SD, sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA.
Selain berbakat main piano, dia juga sukses di akademis. Sempat jadi siswa teladan sepropinsi Jawa Barat waktu SD. Sekarang sekolah di SMA favorit di kota ini.
Lulus ujian piano selalu dengan nilai sangat memuaskan, bahkan ketika dia juga harus belajar untuk ujian nasional SMP tahun lalu.
Selalu mendapat perhatian ketika tampil di konser siswa tahunan sekolah musikku, dan mendapat applause meriah sewaktu tampil membawakan Toccata in D minor gubahan J.S. Bach.
Benar-benar seorang remaja yang potensial…
Bulan depan, dia akan ikut ujian kenaikan tingkat di sekolah musik ku. Tapi sampai sekarang, dia belum menguasai satupun materi ujian yang diberikan !
Kenapa ? “Ngga sempet latihan. Banyak PR dan tugas di sekolah”
Dan mamanya menelpon aku kemarin, dan bercerita panjang tentang putranya. “Dia masuk ke kelas internasional, mbak. Jadi pelajaran science dikasih dobel, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, makanya dia pulang sekolah lebih sore daripada temen-temennya di kelas regular. Pulang sekolah, masih ada aja PR dan tugas yg harus dikerjain. Aduh, gimana ya, mbak ?”
“Kalau hari sabtu minggu gimana, mbak ? bisa latihan ?”
“Nah, itu dia. Hari Sabtu Minggu dia juga ada les sekarang. Les semua pelajaran science.”
Haaa ? *gubrak*
“Iya, mbak. Waktu SMP dia ngerasa dia itu bisa, orang lain ngga bisa. Sekarang, dia ngerasa bisa, tapi lebih banyak temennya yang lebih bisa ! Jadi waktu dia diajak temen2nya untuk ambil les tambahan, dia ikutan aja. Jadinya ya gitu deh, mbak, dia jadi ngga sempet latihan piano. Tapi disuruh berhenti les piano juga dia ngga mau. Gimana dong ?“
Saya hanya bisa memberi solusi seperti ini.. “Mungkin harus bikin prioritas apa yg harus dilakukan, mbak. Untuk pianonya, krn dia mau menghadapi ujian sebentar lagi, prioritaskan dia untuk bisa latihan rutin setiap hari. Nanti kalau sudah selesai ujian, kalau ngga sempat latihan ya saya bisa memaklumi.”
***
Begitulah memang kebanyakan remaja sekarang… Waktunya habis untuk mengejar prestasi akademis.
Menurut pengamatan saya, seringkali memang lingkungan yang membentuk orangtua dan remaja berpikir bahwa prestasi akademis adalah yang terpenting, dan ini menjadi target.
Persepsi pintar adalah pintar di bidang akademis...
Kalau anak pintar di sekolah, tentu nantinya banyak kemudahan yang mereka dapat. Dapat beasiswa, cari kerjaan gampang...dst...
Salahkan pola pikir seperti itu ?
Saya tidak bisa mengatakan salah atau benar, karena sah-sah saja punya pola pikir yang berbeda. Tapi jujur, saya pribadi tidak ingin anak-anak saya menghabiskan waktu dengan belajar pelajaran sekolah saja.
Kalau melihat prestasi akademis mereka - anak-anak saya - , alhamdulillah saya bersyukur… Nilai-nilai di sekolahnya selalu bagus, sempat mendapat medali di olimpiade science tingkat nasional, juara lomba ini itu, dan mendapat beasiswa karena prestasinya..
Tapi kemudian, menjadi terlalu berlebihan dalam pandangan saya, ketika mereka harus dikarantina hanya untuk belajar fisika dan biologi saja, dan masih juga harus mengerjakan science project untuk suatu ajang olimpiade di Amerika..
Menurut saya, sekolah seharusnya adalah tempat untuk mencari ilmu. Menjadi pandai dan berprestasi adalah ‘efek’ dari penguasaan ilmu itu.
Sama juga dengan belajar piano atau belajar yang lain.. Ujian adalah bagian dari pendidikan, sebagai alat ukur apakah murid sudah menguasai ilmunya atau belum..
Tapi kalau yang menjadi ‘target’ adalah nilai rapot, sertifikat, medali, dan piala, sampai rela menghabiskan waktu dan uang untuk membeli soal ujian, drilling mengerjakan ratusan soal, bimbel dan les mata pelajaran…...
Kapan anak-anak mempunyai waktu mengembangkan diri untuk bergaul, bersosialisasi, belajar menguasai suatu ketrampilan, dan mendalami hobinya ?
gambar diambil dari sini
Belajar apapun juga harusnya menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Apalagi belajar musik.. menari, bernyanyi, bertepuk tangan, memukul-mukul alat perkusi, dan membunyikan alat musik adalah kegiatan yang menyenangkan.
 Begitu juga dengan belajar bermain piano… Gimana sih proses belajar main piano yang menyenangkan itu ?
Pertama, harus menguasai rhythm dulu !
Iya, ngga mungkin bisa memainkan alat musik kalau belum bisa ‘nge-rhythm’ Kalau anak-anak kecil, rhythm feel nya bisa dilatih dengan sering mendengarkan segala macam musik…biasanya anak-anak akan langsung bergoyang kalau denger musik.. Ngga percaya ? coba aja… Trus kalau udah goyang, ditambah lagi dengan tepuk tangan. Wah, pasti menyenangkan !
Rhythm feel ini penting banget karena itulah basic dari bermusik. Jadi kalau ortu punya anak yang masih bayi atau masih kecil banget, ngga usah buru2 mau dilesin piano. Yang penting bentuk dulu ‘rhythm feel’ nya. Ok ? Tapi kalau deket rumah ada sekolah musik yang punya program untuk kelas musik anak boleh juga lihat-lihat ke sana..
Kedua, belajar memainkan instrument piano
Kalau anak-anak udah gedean, umurnya udah 5 tahun atau lebih, baru deh kirim anak-anak untuk les piano.
Di Indonesia, selain di sekolah musik Yamaha yang punya buku dan mungkin metode sendiri, memang ada banyak metode belajar piano, yang kebanyakan memang diimpor dari luar.
Jaman dulu orang belajar main piano pakai buku Kindervriend atau Beyer. Kemudian ada generasi John Thompson dan Leila Fletcher yang sudah lebih terstruktur daripada Kindervriend dan Beyer.
Nah, kalau sekarang ini, ada 5 metode yang popular dipakai di seluruh dunia : 1. Alfred’s Basic Piano Library 2. Bastien Piano Basics 3. The Music Tree , 4. Piano Adventures 5. Hal Leonard Student Piano Library
Biasanya di setiap metode ini sudah termasuk di dalamnya Lesson, Theory, Ear Training, Technic dan buku2 Repertoire dengan segala jenis aliran musik seperti pop, klasik, sampai jazz dari mulai awal belajar piano bahkan komplit dengan CD nya. Bahkan pada beberapa music method memikirkan juga kalau ada orang yang mau belajar piano dari usia dewasa, seperti Alfred' Basic Adult
Semua metode punya pendekatan yang berbeda dalam mengenalkan not balok dan menerjemahkannya ke dalam permainan piano. Dan jelas masing-masing metode juga punya kelemahan dan kelebihan. Ngga dibahas disini karena bisa panjang ceritanya..
Tapi sebenernya ada satu hal penting yang perlu tetap dijaga, yaitu harus tetap FUN !!
Ketiga, practice makes perfect !
Memang kenapa sih harus latihan ? ( coba jawab sendiri dulu deh.. ) Ini penting juga diketahui kalau mau sukses belajar piano.
Selama 10 tahun mengajar piano, saya mengamati banyak hal yang menyebabkan anak-anak tidak latihan piano :
1. Tidak punya piano di rumah : Kalau ngga punya piano ya jelas ngga bisa latihan di rumah dong. Mungkin bisa sih latihan ke rumah teman atau ke sekolah musiknya, cuma biasanya ngga jalan deh.
2. Tidak didukung orangtua : Memang banyak juga orangtua yang karena kesibukan atau ketidakmengertian ngga sempat memantau perkembangan anaknya yang masih kecil belajar piano. Coba dong diusahakan untuk menemani anaknya latihan. Kalau memang ngga ngerti piano jangan lepas tangan juga, coba liat di buku catatannya apa aja yang ditugaskan gurunya untuk dilatih atau mungkin ada PR teori yang harus dikerjakan di rumah.
3. Banyak PR dan tugas dari sekolah : No comment..hehe..
4. Banyak les tambahan : Anak sekarang memang hari-harinya penuh les. Pulang sekolah udah sore, masih les bahasa inggris, kumon, aritmatika..dll..
5. Ngga suka sama materi yang dikasih gurunya : Kasus nyata : anak saya sendiri, belajar piano sejak kelas 2 SD, ngambek ngga mau nerusin belajar waktu kelas 5 SD karena harus latihan Beyer !! Sekarang udah SMA ternyata masih tertarik untuk bisa main piano, dan nyesel banget dulu berhenti belajar piano 
6. Memang ngga suka  Ya, kalau memang ngga suka, jangan dipaksa dong. Mungkin anaknya lebih suka menggambar ? atau yang lain ?
FUN ! adalah kata kunci yang penting dalam belajar apa saja, termasuk juga dalam belajar piano. Jangan sampai anak dipaksa padahal ngga suka sama sekali main piano.
Tapi hati-hati, perlu diperhatikan juga kalau ada anak yang tadinya semangat belajar piano, tapi kok tiba-tiba jadi mandeg. Tanya ken-apa...
Ini pertanyaan yang sering sekali ditanyakan orangtua.
"gimana kalau anak kita ikut kursus piano, tapi engga punya piano ?"
Memang kebanyakan orangtua pengen anak bisa main piano, tapi di samping les pianonya biasanya juga sudah mahal, harga pianonya sendiri juga mahal.
Ini pendapatku pribadi.. Kalau anaknya yang minta untuk les piano...-hiks...hari gini jaraaang banget ada anak yang pengen belajar piano atas kemauan sendiri...- untuk keberhasilan anak, usahakan disupport deh. Meskipun awalnya masih bisa sih latian pake organ/keyboard, tapi mendingan nabung untuk beli piano akustik deh, karena kalau belajar piano sebaiknya latihan nya juga pake piano akustik, karena anak-anak sebaiknya mempelajari 'touch' dan 'suara' sejak awal belajar piano.
Kalau dibilang piano akustik mahal sebenernya ya relatif. Seandainya kita membelikan keyboard untuk latihan dengan pertimbangan harganya yang relatif lebih murah daripada piano akustik dan suatu saat anak kita protes, karena sudah punya kebutuhan untuk latihan di piano akustik, itu keyboard biasanya susah dijual lagi, padahal kan harganya lumayan ya. Keyboard/ digital piano yang suaranya cukup memadai sekarang harganya pasti di atas 5 jt ya? Rasanya jadi mahal karena trus jadi mubazir. Sementara kalau kita masih bisa mengusahakan menabung, kita bisa beli piano 2nd yg bisa dituker/dijual lagi nantinya kalau perlu.
Solusi lain adalah 'menyewa piano' di tempat kursusnya. Coba tanyakan di tempat kursusnya apakah bisa latihan di sana sementara orangtua lagi nabung untuk beli piano.. Pertanyaan lain yang juga sering ditanyakan orangtua adalah..
"electone itu = electric piano bukan siy ?"
Sependek pengetahuanku kira-kira begini.. Sebenarnya, music instrument yang tutsnya hitam putih gitu memang namanya semua keyboard (papan kunci;-).
Bedanya gini.. Piano akustik jumlah tuts normalnya 88 keys (ada sih memang yg kurang dari 88), dan ada pedal kakinya 2 atau 3 buah.
Nah, kalau piano akustik nya dikasih colokan listrik namanya jadi electric piano atau digital piano. Salah satu contohnya yang terkenal adalah Clavinova nya Yamaha.
Kalo jumlah tutsnya kurang dari 88 keys, dan bentuknya jauh lebih pendek, ngga ada integrated pedalnya, lepas dari 'kaki'nya, dan gampang dibawa2. Itu udah pasti bukan piano. Istilahnya musisi itu adalah keyboard.
Nah kalo papan kunci nya bertingkat, trus pedal kakinya banyak, dan pakai listrik juga, itu udah pasti juga bukan piano. Itu yg biasa disebut electone atau organ.
Yang paling membedakan dari piano akustik dan piano elektrik adalah 'touch' dan 'suara' nya. Piano akustik biasanya lebih 'berat' menekan tutsnya daripada piano elektrik. Anak-anak yang latihan di keyboard biasanya jari-jarinya lebih lemah dan bentuk jarinya juga kurang baik daripada yang latihan di piano.
Selain itu piano akustik dapat memberikan kesempatan pemainnya untuk bisa menghasilkan ekspresi dan dinamika suara yang lebih luas daripada piano elektrik/ digital piano.
Beberapa hari ini, saya terlibat diskusi mengenai pendidikan piano dengan beberapa teman sesama pengajar piano dari ‘jenis aliran’ musik yang berbeda - klasik dan pop/jazz - selain juga menerima banyak email yang menanyakan hal seputar belajar piano.
Mengajar piano memang pekerjaan saya di hampir 10 tahun belakangan ini. Meskipun bukan seorang master, tapi saya mencintai pekerjaan saya ini. Dari seorang ‘ordinary housewife’ dengan latar belakang pendidikan akademis ilmu matematika, tiba-tiba harus terjun menjadi seorang educator di bidang musik membuat saya harus banyak belajar memperdalam pengetahuan musik, teknik bermain piano klasik, psikologi anak maupun paedagogy.
Bisa main piano saja memang tidak cukup untuk bisa mentransfer ilmu main piano. Di sinilah tantangannya.. Mengajar piano ternyata tidak sesimpel menjelaskan ‘do re mi’ dan ‘tang ting tung’ di piano, tapi harus juga mengajarkan ‘logika membaca not’, bagaimana berekspresi, melatih keberanian, memotivasi, sampai mengajarkan disiplin.
Dalam sharing mengenai pengajaran piano dengan teman-teman.. Ternyata ada perbedaan persepsi antara saya dengan teman-teman sesama pengajar piano klasik mengenai pendidikan dasar piano.
Berdasarkan pengalaman saya selama ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa mengajar murid di tingkat dasar itu justru sangat penting dan lebih sulit daripada murid di tingkat yang lebih tinggi karena memberikan fondasi. Jika salah memberikan fondasi, akan sangat sulit diperbaiki lagi.
Saya berpendapat bahwa, yang namanya belajar piano pada awalnya ya belajar piano, tidak bisa juga ‘dikotak-kotak’an antara belajar ‘piano klasik’, belajar ‘piano pop’, atau belajar ‘piano jazz’.
Imho, belajar piano ya belajar musik. Belajar memainkan piano di sini adalah belajar ‘menguasai’ instrument piano. Bagaimana cara membaca not balok dan menerjemahkannya ke dalam permainan piano.
Siapapun yang ingin belajar main piano seharusnya mendapat bekal pengetahuan yang cukup juga tentang teori harmony, tangganada dan chord. Belajar piano klasik bukan berarti ‘tabu’ menggunakan chord, atau kalau belajar piano dengan menggunakan chord namanya jadi belajar piano pop.. Bahkan Bach, Mozart dan Beethoven pun menggunakan harmony, tangganada dan chord dalam musiknya.
Tidak ada metode khusus untuk ‘belajar piano klasik’, yang ada adalah metode untuk ‘belajar piano’. Klasik, Jazz, Rock atau Pop adalah jenis aliran musik. Bentuk not balok yang dibaca ya sama saja. Yang membedakan adalah ‘feel’ dari jenis musik yang dimainkan. Dan ‘feel’ yang berbeda bisa jadi memang membutuhkan teknik memainkan yang berbeda juga.
Tapi pada dasarnya, pelajaran dasar piano belum dapat dipisah2kan antara piano klasik, pop atau jazz. Begitu juga pendapat teman saya pengajar piano pop/jazz.
Itulah sebabnya, bisa jadi ada anak yang belajar ‘piano klasik’ selama bertahun-tahun, menjadi sangat terlatih untuk membaca partitur musik, tapi ternyata tidak bisa memainkan pianonya tanpa partitur. Menurut pengamatan saya, hal ini terjadi karena mereka tidak mendapat cukup bekal pengetahuan tentang teori harmony, tangganada dan progression chord sejak awal belajar. Padahal, seandainya pengetahuan ttg harmony diberikan sejak awal, dalam 2 atau 3 tahun belajar piano, anak-anak seharusnya sudah dapat memainkan berbagai ‘warna’ musik.
Memang, buat saya, mengajarkan dasar2 bermain piano bukanlah pekerjaan mudah. Jujur, saya sering mendapat kesulitan kalau menerima murid pindahan, karena basicnya kurang kuat. Bahkan saya pernah menerima seorang murid yang sudah belajar piano selama 4 tahun, sudah bisa memainkan “Fur Elise” luar kepala, tapi ternyata tidak bisa membaca not sama sekali…:(
Ada pertanyaan yang sering sekali diajukan pada saya :
Pada umur berapakah anak sudah bisa mulai belajar main piano ?
Sebenarnya, pengenalan musik sendiri sebaiknya diberikan jauh sebelum anak mulai belajar memainkan instrument musik. Bahkan dapat dimulai sejak dalam kandungan. Sering mendengarkan musik apapun juga dapat meningkatkan musikalitas anak. Mendengarkan musik sambil bertepuk tangan, menari atau menyanyi pun sudah dapat dikatakan mengenalkan musik pada anak.
Tapi umur paling ideal untuk mulai belajar memainkan instrument musik khususnya piano adalah umur 5 tahun. Di umur ini anak secara fisik sudah punya jari-jari yang cukup kuat untuk memencet tuts2 piano, dan biasanya sudah mengenal abjad dan menghitung.
Tapi pada dasarnya, tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar musik. Belajar piano bisa dimulai dari umur berapa saja, usia dewasa sekalipun. Meskipun mungkin kalau belajar piano nya dimulai di usia dewasa jari-jari memang sudah tidak selincah anak-anak ya..;-)
Bagaimana kalau ingin belajar main piano, tapi tidak punya piano ?
Yaaaa... saya seringkali menyarankan, coba belajar saja dulu, sambil melihat minatnya. Biasanya, kalau memang berminat, murid-murid saya akan minta dibelikan piano. Jadi kalau bisa sih, pada waktu anak mulai belajar piano, orangtua sebaiknya sudah bersiap-siap nabung untuk beli piano...gitu...
Skill itu sesuatu yang sangat berharga lho..
Terinspirasi oleh tulisan teman seperjuangan saya, maz eko, pianis jazz yang kalau udah main piano suka bikin diriku 'mangap' a.k.a terpesona, penulis buku best seller "Metode Dasar Belajar Piano Pop" yang menulis "Bisa piano bisa semua alat musik ?" di blognya.
Hmmm...buat saya ini menarik... dan mungkin pendapat pribadi saya ini bisa sedikit menambahkan tulisan blio.
Banyak orangtua yang ingin anaknya bisa main musik karena menurut penelitian di negara barat, main musik itu bisa mencerdaskan anak dan baik untuk keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Saya sendiri belum melakukan penelitian atas diriku sendiri sih..hehe..jadi percaya aja ya.. memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dari musik.
Lalu pertanyaan berikutnya "Instrument musik apa?" Saya yakin, kebanyakan orangtua memang akan menjawab "Piano !"
Kenapa ? alasannya memang bisa macam-macam, salah satunya memang persis seperti apa yang ditulis maz eko "Karena kalau bisa main piano pasti bisa semua alat musik"
Apa betul begitu ? Kalau menurut maz eko, ini cuma mitos.
Saya akui, memang betul selama ini ada paradigma kalau bisa main piano 'klasik' itu pasti bisa memainkan semua instrument musik. Imho, paradigma ini ngga salah juga sih. Paling tidak ini menurut pengalaman saya selama ini yang sudah pernah 'bersentuhan' dengan instrument lain di luar piano.
Saya belajar piano 'klasik' sejak umur 9 tahun. Di umur 14 tahun, waktu saya masih duduk di SMP, saya diajak bergabung dengan teman-teman mahasiswa ITB yang membuat suatu pementasan sendratari ballet dengan iringan live music gamelan Bali digabung dengan brass instrument seperti trumpet dan trombone.
Saya sendiri waktu itu kebagian jadi salah satu penabuh gamelan Bali nya. Hmmm…ini salah satu pengalaman ngga terlupakan buat saya..instrumen pentatonis yang digabung dengan instrument diatonis menghasilkan warna suara yang unik di telinga muda saya waktu itu..
Lalu jaman kuliah dulu, saya jadi anggota marching band kampus ( tempat ketemu mantan pacar..hehe..) dan pegang instrument Bell-lyra sebelum jadi ketua suku Saxophone.
Dimana saya belajar niup saxophone ? ya, disana...belajar sendiri, bareng temen2..
Belakangan ini, keinginan untuk bisa memainkan instrument musik lain selain piano kok ya ternyata masih menggebu-gebu. Jadi saya sempat belajar memetik gitar klasik dan sekarang masih juga menekuni salah satu string instrument : Viola.
Viola itu 'kakak'nya Violin, bukan dari segi umur, tapi dari segi ukuran. Viola ukurannya agak lebih besar dibanding violin.
Suara Violin memang ada di range suara Sopran (tinggi), partiturnya menggunakan treble clef, sementara Viola ada di range suara Alto (menengah). Kunci/Clef yang dipelajari untuk viola memang berbeda dengan kunci-kunci atau clef yang biasa digunakan untuk kebanyakan instrument musik ( Treble Clef atau Bass Clef ) , partitur viola menggunakan Alto Clef.
Meskipun sama-sama digesek, bahkan tidak semua pemain violin dapat secara otomatis memainkan viola karena perbedaan clef itu.
Yang saya rasakan adalah...
Bisa baca not balok dan bisa main piano memang tidak menjadikan saya secara otomatis menguasai instrument musik yang lain.
Saya tetap harus mempelajari bagaimana cara membunyikan gamelan, saxophone, gitar dan viola dan tetap harus berlatih untuk bisa menghasilkan bunyi yang baik dan benar…
Tapi ada yang bisa saya simpulkan dari pengalaman saya ini…
Bisa main piano 'klasik' memang memudahkan kita mempelajari instrument musik yang lain karena : - Sudah menguasai not balok lebih dari 1 clef ( partitur piano menggunakan bass clef dan treble clef sekaligus ) - Musikalitasnya sudah cukup terlatih - Terlatih memainkan melodi sekaligus harmoni di kedua tangan
Memang betul apa yang ditulis oleh maz Eko, kalau mau belajar instrument musik ngga usah muter-muter langsung aja belajar instrumentnya dari awal, supaya tidak terbuang waktu percuma.
Masalahnya.. Pilihan instrument musik untuk anak2 umur 5 tahun itu memang masih sangat terbatas.
Dari begitu banyak jenis instrument musik akustik dan elektrik : woodwind instrument ( clarinet, saxophone, bassoon, flute dsb. ), brass instrument ( trumpet, trombone, horn dsb ), string instrument ( gitar, violin, viola, cello, bass dsb), maupun percussion, atau bahkan instrument traditional indonesia seperti gamelan, angklung, kolintang, kecapi, rebana, atau instrument musik elektrik lainnya…
Mungkin cuma ada piano, keyboard, biola atau drum (?) yang masih memungkinkan dipelajari oleh anak2 sejak umur 5 taun.
Statement "bisa main piano bisa semua alat musik" buat saya bisa jadi bener, karena mungkin ngga berlaku kebalikannya. Artinya bisa main gitar atau biola belum tentu bisa main piano, karena harus belajar lagi baca not balok di Bass Clef.
Nah, kalau statement "bisa main piano klasik pasti bisa piano pop, piano jazz atau keyboard" memang kurang pas. Seperti yang ditulis maz Eko, kalau mau belajar piano pop/jazz atau keyboard langsung aja ke instrumentnya, ngga usah 'muter' lewat piano klasik..
Jadi sebenarnya, itulah sebabnya piano masih menjadi pilihan instrument pertama anak-anak sampai sekarang, karena piano termasuk yang paling 'lengkap' dari sisi apa yang harus dikuasai seorang pemain musik, dan bisa dipelajari sejak anak berumur 5 tahun.
Cuma sayangnya, memang ada kendala... Salah satunya yang sering muncul adalah "harga piano 'mahal'"
Ada seorang bapak pengunjung blog saya menulis kira2 spt ini di emailnya.. "Saya ingin anak-anak saya mengerti musik dan belajar piano, tapi kami tinggal di Aceh. Dan pasca tsunami, rasanya ini adalah hal yang sulit"
Menurut saya, kendala-kendala itu sebaiknya tidak jadi penghalang anak-anak untuk bisa bermusik. Bermusik dalam pandangan saya bukan hanya berarti bisa main piano.
Anak-anak mengenal musik bisa dari cara apa saja.. Menari, menyanyi, bermain perkusi sederhana, mendengarkan lagu, semuanya akan mengembangkan musikalitas anak-anak. Dan seharusnya, di sekolah dasar, anak-anak sudah bisa bermain musik bersama dengan instrument musik sederhana seperti perkusi, suling dan pianika.
Kalau orangtua ingin anak-anak menguasai salah satu instrument musik dan memang 'kemampuan finansial' orangtua terbatas, mungkin bisa dipilih instrument musik yang harganya masih terjangkau…gitar atau biola barangkali ? atau harmonika ? ;)
Tulisan ini hanya pendapat pribadi saya berdasarkan apa yang pernah saya alami. Mungkin ada yang bisa menambahkan atau mengoreksi ?
| |