lita's posts with tag: pramuka
Dikutip dari media harian : Jurnal Nasional
9 Pertanyaan untuk Lita Uditomo: Bangkitkan Pramuka di Perumahan
Rabu, 13 Feb 2008 PADA masa Orde Baru, rata-rata kepala sekolah dasar dan menengah mewajibkan siswa mereka mengikuti latihan pramuka. Bahkan, ada hari khusus berseragam Pramuka. Kebijakan ini menyalahi prinsip dasar Pramuka, yakni sukarela. Kebijakan itu juga memaksa guru, yang belum tentu suka, menjadi pembina. Akibatnya, mereka menyampaikan materi secara massal di dalam kelas. Padahal, metode kepramukaan mengajarkan sistem beregu, tanda kecakapan, dan latihan di alam terbuka.
Lita Uditomo, seorang ibu rumah tangga, yang sehari-hari mengajar les piano, mencoba menghidupkan kembali gerakan pramuka di perumahan, bersama suami dan teman-temannya. Apa alasan alumni Jurusan Matematika, Institut Teknologi Bandung ini memilih pramuka untuk dihidupkan sebagai kegiatan di perumahannya? Berikut petikannya wawancara Jurnal Nasional dengan adik pakar IT Onno W. Purbo ini, akhir bulan lalu di Depok.
1. Bisa diceritakan bagaimana terbentuknya gudep (gugus depan) pramuka di perumahan Griya Depok?
Awalnya memang tidak terpikir. Sejalan dengan tumbuhnya anak-anak kami menjadi remaja, kami merasakan sulitnya mereka mengembangkan diri, karena tidak adanya wadah yang memadai. Kami juga merasakan kuatnya arus negatif dari lingkungannya. Bagi kami, pintar secara akademis saja tanpa diimbangi dengan kemampuan bersosialisasi, berorganisasi, kepekaan terhadap lingkungan dan penguasaan suatu keterampilan (life skills) rasanya tidak cukup untuk bisa menjadi bekal hidup mereka pada masa yang akan datang.
Berawal dari sinilah, kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk mengisi acara peringatan 17 Agustus, dan peringatan hari besar Islam dengan performance remaja seperti ensemble musik, vokal grup dan operet. Seringnya berkumpul untuk latihan itu ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan di antara mereka. Komunitas mereka otomatis terbentuk.
2. Usulan langsung dijalankan?
Suami tertarik sesudah membaca AD/ART Gerakan Pramuka di website Kwartir Nasional. Waktu itu saya tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya membentuk gudep. Apakah mungkin orang yang sudah lama sekali tidak terlibat dengan kegiatan kepramukaan lalu membentuk gudep? Kebetulan saya punya teman yang pekerjaannya membina pramuka di sekolah-sekolah. Dia mengenalkan kami pada temannya yang juga pembina pramuka. Beliau antusias mendukung terbentuknya gudep teritorial ini, dan memberikan bimbingan bagaimana caranya dan apa syarat-syarat membentuk gudep. Kami pun diberi buku Kursus Mahir Dasar ( KMD ), dan menyarankan kami untuk ikut kursus ini atau pelatihan untuk pembina pramuka juga. Sesudah semua siap, kami sepakat untuk memulai kegiatan pramuka ini pada Februari 2007.
3. Apa kendala awalnya?
Terbatasnya sumber daya pembina. Apalagi, kami kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan kerja sama dengan teman pembina itu, karena ketidaksesuaian idealisme. Kami lalu sempat bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya saya memberanikan diri menceritakan masalah ini ke mailinglist pramuka . Alhamdulillah, direspons dengan baik.
Beberapa teman menyarankan supaya saya dan suami yang terjun langsung menjadi pembinanya. Menurut mereka, pada dasarnya orang tua adalah pembina anak-anaknya. Yang penting jadi pembina pramuka itu dasarnya harus sukarela dan ikhlas. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk terjun langsung. Selama beberapa minggu berjalan, semua hal kami tangani berdua saja. Mulai menyusun program latihan mingguan, melatih setiap minggu pagi, sampai mengurusi administrasi dan perlengkapan gudep.
4. Apa sebenarnya kelebihan Pramuka?
Kami ingin anak-anak dan remaja mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya, pramuka adalah kendaraan yang paling tepat. Di pramuka mereka bisa belajar pertolongan pertama pada kecelakaan, sains dan teknologi, musik, menggambar, masak, menulis, akting, menjahit, berkebun. Pendeknya di pramuka anak-anak bisa belajar apa saja sesuai minat dan bakat mereka. Tidak cuma teknik kepramukaan seperti semaphore, morse, baris berbaris, dan tali temali saja.
Selain itu di pramuka anak-anak juga belajar bersosialisasi, bekerja sama, berorganisasi, dan melatih kepemimpinan sejak usia siaga (SD) sampai usia dewasa dengan sistem barung, regu, sangga, racana. Jadi bisa dibilang pramuka itu kegiatannya 'multiple intelligence'. Dan karena semua kegiatannya berbasis pada Satya (janji) dan Dharma (moral), Insya Allah outputnya adalah pemimpin yang berkarakter, dan menjunjung nilai-nilai luhur. Menurut pengalaman saya yang mempunyai anak-anak yang sekarang sudah remaja, pendidikan seperti ini tidak bisa mereka dapatkan baik di rumah maupun di sekolah.
5. Bukankah di sekolah masing-masing mereka sudah mendapatkan kepramukaan?
Pendidikan kepramukaan adalah pendidikan ketiga sesudah pendidikan di rumah dan di sekolah. Kegiatannya berbentuk outbond di alam terbuka, bukan kegiatan di dalam kelas. Kami memilih basisnya di perumahan karena memang awalnya dibentuk untuk mewadahi kegiatan anak-anak dan remaja di lingkungan perumahan kami dan sekitarnya.
6. Bagaimana tanggapan warga perumahan?
Alhamdulillah, cukup banyak orang tua yang menanggapi positif kegiatan ini dan berhasil mendorong putra dan putrinya untuk ikut. Sekarang sudah ada sekitar 35 anak dari siaga, penggalang sampai penegak yang bergabung, dengan 5 orang pembina yang semuanya adalah orang tua dari anak-anak pramuka. Tapi, ada juga yang memprihatinkan, karena ada anak yang berminat ikut pramuka tapi tidak diizinkan orang tuanya. Tantangan kami memang mengubah citra masyarakat terhadap pramuka. Kegiatan ini masih dinilai tidak keren, kampungan. Malah ada yang menilai kegiatan ini corong pemerintah. Jadi kendalanya bukan dana atau teknis pelaksanaannya, tapi mengubah citra.
7. Apakah dana memang bukan kendala?
Alhamdulillah, kebetulan kami bisa mandiri tidak tergantung pada sponsor/donor ataupun kwartir. Modal awal bisa dibilang tidak ada, hanya untuk administrasi dan perlengkapan gudep seperti bendera. Untuk operasional kegiatan mingguan seperti peralatan dan perlengkapan memang semua didanai para pembinanya, yang juga warga perumahan. Kebetulan, para pembina adalah pekerja profesional berpendidikan S1 dan S2 yang di tengah kesibukannya dengan sukarela dan ikhlas meluangkan waktu dan tenaganya untuk bergabung membina anak-anak. Iuran bulanannya yang Rp.20.000, menjadi tabungan kegiatan outing setiap liburan. Kadang-kadang kami juga minta bantuan dana tambahan dari Masjid Al Mukhlishun untuk kegiatan outing, kalau masih kurang.
8. Anak didik selalu antusias?
Kebosanan mungkin ada. Kami harus bisa 'tarik ulur' untuk membina mereka. Harus gaul juga. Kami berusaha terus untuk tetap kreatif dan inovatif. Ke depannya insya Allah anak-anak penggalang sudah bisa lebih mandiri. Pembina hanya mendampingi.
9. Tidakkah tergerak untuk membuat kampanye ke perumahan-perumahan lain?
Sebenarnya, kami mengharapkan media bisa mempromosikan terbentuknya gudep-gudep teritorial/wilayah. Kami lebih fokus pada pengembangan gudep sendiri. Tapi saya membuat blog khusus untuk kegiatan pramuka di www.pramukakita.multiply.com. Selain untuk dokumentasi kami, sarana untuk memperluas jaringan, Insya Allah dapat menambah wawasan teman-teman yang berniat mendirikan gugus depan di lingkungannya. Ke depannya, blog ini bisa menjadi sarana peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menulis, dan pengetahuan teknologi.
Thonthowi Dj

|  | Di hari minggu yang cerah, 6 Januari 2008, dalam rangka mengisi liburan, anak-anak Pramuka Siaga Griya Depok Asri diajak berpetualang 'cinta alam' ke 99 Trees Community, Desa Meruyung.
Di sana mereka belajar mengenal pepohonan, menanam pohon, memanen bayam, menangkap ikan, sampai memasak sayur dan ikannya pakai kayu bakar !
O,ya, sempet naik sampan juga lho...:)
Bener2 petualangan yang mengasyikkan... Dan sebenarnya kami pembina memilihkan paket itu dengan harapan adik-adik siaga belajar mengenai 'proses' bagaimana makanan bisa sampai di meja makan di rumah mereka :)
Mau ikut ngerasain serunya petualangannya ? mampir yuk ke... http://pramukakita.multiply.com/photos/album/18/Kampung_99_Pepohonan_6_Jan_2008
|
Salah satu hal yang diingat suami saya sewaktu kami ikut training ESQ adalah... “Meninggal asyik !!” Hehe..meninggal asyik ? Ya, instruktur kami mengatakan waktu itu bahwa meninggal berarti kita akan bertemu dengan Allah yang kita cintai. Jadi meninggal itu asyik kan ?
Tapi memang meninggal ngga mungkin jadi ‘asyik’ kalau kita ngga punya bekal amal yang cukup untuk bertemu dengan Allah.
Salah satu semangat yang ditularkan oleh suami saya adalah semangat untuk berbuat sesuatu untuk lingkungan, juga kepeduliannya yang tinggi pada generasi muda.
Kondisi Indonesia sekarang ini memang memprihatinkan, dari pelanggaran nilai-nilai yang ‘kecil’ spt melanggar lalu lintas, kurang peduli dengan lingkungan sekitar, buang sampah sembarangan, sampai korupsi dimana2.
Bagaimana pembentukan karakter anak2 generasi penerus bangsa ini kalau tidak ada teladan baik, bahkan mungkin orangtuanya sendiri tidak mampu mengajarkan nilai-nilai baik ?
Hal-hal seperti itulah yang mendorong kami untuk berbuat sesuatu. Di tengah kesibukan suami yang manager K3 di sebuah perusahaan engineering consultant, dan saya yang mengajar piano di sekolah musik, kami berusaha meluangkan waktu untuk membentuk suatu gugus depan pramuka.
Kenapa pada akhirnya kami memilih Gerakan Pramuka sebagai wadah pengembangan diri generasi muda ? Sebenarnya karena - menurut kami - gerakan pramuka itu sistemnya bagus dan kalau ‘nyawanya’ ada , dijalankan dengan benar maka kegiatan ini memang cocok banget sebagai wadah pembentukan karakter anak bangsa.
Coba saja lihat janji Trisatya nya yang diucapkan pada waktu pelantikan…
Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh : 1. Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan RI, dan mengamalkan pancasila 2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat 3. Menepati Dasadarma Saya kok melihat masa depan Indonesia yang cerah seandainya generasi muda kita berjanji dengan bersungguh-sungguh seperti itu.
Belum lagi nilai-nilai dasadarma nya yang selalu dibaca setiap upacara pembukaan dan ditanamkan dalam setiap kegiatannya..
Pramuka itu : 1. Takwa kepada Tuhan YME 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia 3. Patriot yang sopan dan perwira 4. Patuh dan suka bermusyawarah 5. Rela menolong dan tabah 6. Rajin, trampil dan gembira 7. Hemat, cermat dan bersahaja 8. Disiplin, berani dan setia 9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya 10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan Kebayang kan…seperti apa seharusnya outputnya.. mereka adalah calon2 pemimpin yang bertakwa, cinta alam, peduli pada sesama, trampil,…dst…
Pramuka memang bukan hanya sekedar baris berbaris..
Alhamdulillah, kami bertemu dengan teman-teman yang mempunyai visi yang sama. Mereka sukses dalam karir profesionalnya dan di tengah kesibukan masing-masing ( membagi waktu antara bekerja dan keluarga ) berkenan meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk bersama-sama membina generasi penerus bangsa seperti janji trisatya sewaktu penggalang dulu "mempersiapkan diri membangun masyarakat".
Kak Ita, kak Lilik dan kak Widodo di mata saya memang orang-orang hebat yang lahir dari pendidikan kepramukaan.
 yang berseragam pramuka ( ki-ka ) : kak Lilik, saya, kak Ita, kak Udi, dan kak Widodo bersama teman-teman dari pathfinderAlhamdulillah, kegiatan pramuka teritorial di perumahan kami yang berjalan sejak bulan Februari 2007 sudah berkembang dan dipublikasikan oleh beberapa media, seperti majalah tempo dan koran republika. Salah satunya bisa dibaca di Republika Online :
Sosok Lita Uditomo : Merintis pramuka di perumahan dan Belia : Pramuka di Perumahan Mudah2an bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang sama-sama peduli dengan generasi muda untuk melakukan sesuatu untuk anak-anak kita.
Bahagia rasanya bila kita bisa berbuat sesuatu...
Judulnya ngga kuku banged...hehe...soalnya itu yang banyak ditanyain di SB ku sama temen2 yang baik hati menengokku selama aku 'semedi'. Iya sih, abis sebulan semedi harusnya kan tambah sakti, tapi ini kok ya gitu-gitu aja. Masih 'sok sibuk'... Apa yang mau diceritain ya ? Sebulan ini rizki baru ujian SD, budi bolak balik seleksi pertukaran pelajar, bimo ikut olimpiade biologi, aku dan mas Udi masih asik nyiapin camping pramuka Rizki alhamdulillah udah lulus SD dengan cukup baik, udah diwisuda juga, sekarang statusnya udah pelajar SMP, dan akan mulai matrikulasi bahasa inggris tg. 9 Juli besok. Bimo, naik ke kelas VIII, rangking 3, abis terima rapot terpilih ikut seleksi olimpiade biologi kota depok...wah, dia seneng bangeddd...ngga kaya mas Budi yang doyan Fisika, Bimo emang doyan banged Biologi  Budi, naik ke kelas XI, rangking 1, dari mulai bulan April sebenernya udah mendaftar ikut program pertukaran pelajar (AFS) yang informasinya dia dapet dari tante Hanni. Dan so far berhasil lolos sampai seleksi ke-3 ( terakhir ) di tingkat chapter. Pengumuman nya nanti bulan Agustus. Katanya dia tu pengeeen banged sekolah ke Jepang. Nah, sekarang semuanya lagi liburrrr.. dan hari sabtu minggu kemaren kita udah camping sama temen-temen pramuka lagi... wah, seneng banged deh... Bimo dilantik jadi penggalang ramu waktu camping
Rizki juga dilantik jadi penggalang ramu  Sama temen-temen dari Path Finder yang sangat membantu di acara jurid malam Pada liburan kemana nih ?? 

|  | Untuk persiapan camping pramuka liburan yang akan datang, para pembina jalan-jalan survey ke lokasi...
Pemandangannya kereenn banget..
|
| |