lita's posts with tag: remaja

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag remaja
Blog EntryPersepsi pintarMar 3, '08 12:19 PM
for everyone

Remaja cowok
ini adalah salah satu murid pianoku yang berbakat.
Belajar piano sejak kelas 4 SD, sekarang sudah duduk di kelas 1 SMA.

Selain berbakat main piano, dia juga sukses di akademis.
Sempat jadi siswa teladan sepropinsi Jawa Barat waktu SD.
Sekarang sekolah di SMA favorit di kota ini.

Lulus ujian piano selalu dengan nilai sangat memuaskan, bahkan ketika dia juga harus belajar untuk ujian nasional SMP tahun lalu.

Selalu mendapat perhatian ketika tampil di konser siswa tahunan sekolah musikku, dan mendapat applause meriah sewaktu tampil membawakan Toccata in D minor gubahan J.S. Bach.

Benar-benar seorang remaja yang potensial…

Bulan depan, dia akan ikut ujian kenaikan tingkat di sekolah musik ku. Tapi sampai sekarang, dia belum menguasai satupun materi ujian yang diberikan !

Kenapa ?
“Ngga sempet latihan. Banyak PR dan tugas di sekolah”

Dan mamanya menelpon aku kemarin, dan bercerita panjang tentang putranya.
“Dia masuk ke kelas internasional, mbak. Jadi pelajaran science dikasih dobel, dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, makanya dia pulang sekolah lebih sore daripada temen-temennya di kelas regular. Pulang sekolah, masih ada aja PR dan tugas yg harus dikerjain. Aduh, gimana ya, mbak ?”

“Kalau hari sabtu minggu gimana, mbak ? bisa latihan ?”

“Nah, itu dia. Hari Sabtu Minggu dia juga ada les sekarang. Les semua pelajaran science.”

Haaa ? *gubrak*

“Iya, mbak. Waktu SMP dia ngerasa dia itu bisa, orang lain ngga bisa. Sekarang, dia ngerasa bisa, tapi lebih banyak temennya yang lebih bisa ! Jadi waktu dia diajak temen2nya untuk ambil les tambahan, dia ikutan aja. Jadinya ya gitu deh, mbak, dia jadi ngga sempet latihan piano. Tapi disuruh berhenti les piano juga dia ngga mau. Gimana dong ?“

Saya hanya bisa memberi solusi seperti ini..
“Mungkin harus bikin prioritas apa yg harus dilakukan, mbak. Untuk pianonya, krn dia mau menghadapi ujian sebentar lagi, prioritaskan dia untuk bisa latihan rutin setiap hari. Nanti kalau sudah selesai ujian, kalau ngga sempat latihan ya saya bisa memaklumi.”

***

Begitulah memang kebanyakan remaja sekarang…
Waktunya habis untuk mengejar prestasi akademis.

Menurut pengamatan saya, seringkali memang lingkungan yang membentuk orangtua dan remaja berpikir bahwa
prestasi akademis adalah yang terpenting,  dan ini menjadi target.

Persepsi pintar adalah pintar di bidang akademis...

Kalau anak pintar di sekolah, tentu nantinya banyak kemudahan yang mereka dapat.
Dapat beasiswa, cari kerjaan gampang...dst...

Salahkan pola pikir seperti itu ?

Saya tidak bisa mengatakan salah atau benar, karena sah-sah saja punya pola pikir yang berbeda. Tapi jujur, saya pribadi tidak ingin anak-anak saya menghabiskan waktu dengan belajar pelajaran sekolah saja.

Kalau melihat prestasi akademis mereka - anak-anak saya - , alhamdulillah saya bersyukur…
Nilai-nilai di sekolahnya selalu bagus, sempat mendapat medali di olimpiade science tingkat nasional, juara lomba ini itu, dan mendapat beasiswa karena prestasinya..

Tapi kemudian, menjadi terlalu berlebihan dalam pandangan saya, ketika mereka harus dikarantina hanya untuk belajar fisika dan biologi saja, dan masih juga harus mengerjakan science project untuk suatu ajang olimpiade di Amerika..

Menurut saya, sekolah seharusnya adalah tempat untuk mencari ilmu. Menjadi pandai dan berprestasi adalah ‘efek’ dari penguasaan ilmu itu.

Sama juga dengan belajar piano atau belajar yang lain..
Ujian adalah bagian dari pendidikan, sebagai alat ukur apakah murid sudah menguasai ilmunya atau belum..

Tapi kalau yang menjadi ‘target’ adalah nilai rapot, sertifikat, medali, dan piala, sampai rela menghabiskan waktu dan uang untuk membeli soal ujian, drilling mengerjakan ratusan soal, bimbel dan les mata pelajaran…...

Kapan anak-anak mempunyai waktu mengembangkan diri untuk bergaul, bersosialisasi, belajar menguasai suatu ketrampilan, dan mendalami hobinya ?

gambar diambil dari sini

Blog EntryBahaya kecanduanFeb 19, '08 10:04 AM
for everyone

Baca surat pembaca di Koran Tempo pagi ini, saya jadi inget posting saya belum lama ini mengenai hal yang sama.

Ternyata memang ada bahaya kecanduan lain selain narkoba.
Saya menuliskan lagi surat bapak Mohd Yusuf dari Tangerang ini, supaya bisa menjadi warning untuk para orangtua terutama yang kedua orangtuanya bekerja di luar rumah sampai malam, dan mempunyai anak remaja cowok.

Saya juga prihatin melihat kenyataan yang sama di sekeliling saya .

Selain bolos sekolah berhari-hari mereka bahkan sampai berani berbohong pada orangtua dan mencuri !

Dan sama seperti pecandu narkoba, para gamers ini bisa jadi tahu apa yang mereka lakukan ( berbohong, membolos dan mencuri ) ini sebenarnya salah, tapi ngga bisa keluar dari 'jeratan' nya. Apalagi kalau lingkungan pergaulannya terus menerus menarik mereka kembali masuk ke sana.

Inilah surat dari bpk Mohd Yusuf..

"Pada saat ini, akses online game melalui internet sudah mewabah di setiap daerah. Hal ini membuat anak-anak remaja, mulai bangku sekolah menengah pertama sampai mahasiswa, kerasan duduk berjam-jam bermain online game atau melihat situs porno pada waktu belajar, baik pagi, sore, maupun malam hari, bahkan sampai 24 jam nonstop.

Melalui internet, mereka dapat mengakses online game untuk mencari lawan tanding dengan reward tertentu ( poin diperjualbelikan ) atau chatting dengan temannya di dunia maya tanpa dapat kita ketahui bagaimana perilaku dan sifat temannya tsb.

Kebetulan musibah ini menimpa anak laki-laki kami ( usia 14 tahun ) yang masih duduk di bangku SMP. Semula anak kami penurut dan terbuka kepada orangtua. Sekarang dia tidak terkontrol, sering tidak masuk sekolah, dan beberapa kali kabur dari rumah sampai berhari-hari.
Sudah seminggu anak kami pergi dari rumah hanya dengan berseragam sekolah tanpa memberitahu tempatnya berada. Kejadian ini pun tidak hanya menimpa kami, tapi juga dialami beberapa orangtua teman anak kami.

Kami sebagai orangtua sangat sedih dan prihatin atas musibah ini. Apa jadinya anak kami nanti ? Menurut guru konseling, permainan online game sudah menjadi candu dan tak ubahnya seperti orang kecanduan obat-obatan terlarang, lupa akan segala-galanya.

Saat pertamakali dia kabur dari rumah, kami telusuri seharian setiap rumah, toko dan warung internet yang ada di wilayah kami. Terlihat anak-anak berseragam sekolah di dalam ruko sedang asyik dengan permainan online game tsb. Setiap warnet selalu dipenuhi pecandu online game 10-15 anak. Bayangkan kalau ada 20 warnet, berarti ada 200 anak yang tidak belajar pada saat itu. Tentu sama halnya dengan daerah-daerah lain.

Wahai, bapak dan ibu yang berwenang di pemerintah pusat atau daerah, para pembuat keputusan, pengawas kebjakan, lembaga swadaya masyarakat, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Anak, mohon dengan sangat agar warnet diseleksi serta ada pengawasan sebelum telanjur merusak generasi muda kita sebagai penerus bangsa tercinta ini. Terimakasih."


Blog EntryDiliput Jurnal NasionalFeb 14, '08 10:23 AM
for everyone
Dikutip dari media harian : Jurnal Nasional

9 Pertanyaan untuk Lita Uditomo: Bangkitkan Pramuka di Perumahan

Rabu, 13 Feb 2008
PADA masa Orde Baru, rata-rata kepala sekolah dasar dan menengah mewajibkan siswa mereka mengikuti latihan pramuka. Bahkan, ada hari khusus berseragam Pramuka. Kebijakan ini menyalahi prinsip dasar Pramuka, yakni sukarela.
Kebijakan itu juga memaksa guru, yang belum tentu suka, menjadi pembina. Akibatnya, mereka menyampaikan materi secara massal di dalam kelas. Padahal, metode kepramukaan mengajarkan sistem beregu, tanda kecakapan, dan latihan di alam terbuka.

Lita Uditomo, seorang ibu rumah tangga, yang sehari-hari mengajar les piano, mencoba menghidupkan kembali gerakan pramuka di perumahan, bersama suami dan teman-temannya. Apa alasan alumni Jurusan Matematika, Institut Teknologi Bandung ini memilih pramuka untuk dihidupkan sebagai kegiatan di perumahannya? Berikut petikannya wawancara Jurnal Nasional dengan adik pakar IT Onno W. Purbo ini, akhir bulan lalu di Depok.

1. Bisa diceritakan bagaimana terbentuknya gudep (gugus depan) pramuka di perumahan Griya Depok?

Awalnya memang tidak terpikir. Sejalan dengan tumbuhnya anak-anak kami menjadi remaja, kami merasakan sulitnya mereka mengembangkan diri, karena tidak adanya wadah yang memadai. Kami juga merasakan kuatnya arus negatif dari lingkungannya. Bagi kami, pintar secara akademis saja tanpa diimbangi dengan kemampuan bersosialisasi, berorganisasi, kepekaan terhadap lingkungan dan penguasaan suatu keterampilan (life skills) rasanya tidak cukup untuk bisa menjadi bekal hidup mereka pada masa yang akan datang.

Berawal dari sinilah, kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak dan remaja untuk mengisi acara peringatan 17 Agustus, dan peringatan hari besar Islam dengan performance remaja seperti ensemble musik, vokal grup dan operet. Seringnya berkumpul untuk latihan itu ternyata menumbuhkan rasa kebersamaan di antara mereka. Komunitas mereka otomatis terbentuk.

2. Usulan langsung dijalankan?

Suami tertarik sesudah membaca AD/ART Gerakan Pramuka di website Kwartir Nasional. Waktu itu saya tidak bisa membayangkan, bagaimana caranya membentuk gudep. Apakah mungkin orang yang sudah lama sekali tidak terlibat dengan kegiatan kepramukaan lalu membentuk gudep? Kebetulan saya punya teman yang pekerjaannya membina pramuka di sekolah-sekolah. Dia mengenalkan kami pada temannya yang juga pembina pramuka. Beliau antusias mendukung terbentuknya gudep teritorial ini, dan memberikan bimbingan bagaimana caranya dan apa syarat-syarat membentuk gudep. Kami pun diberi buku Kursus Mahir Dasar ( KMD ), dan menyarankan kami untuk ikut kursus ini atau pelatihan untuk pembina pramuka juga. Sesudah semua siap, kami sepakat untuk memulai kegiatan pramuka ini pada Februari 2007.

3. Apa kendala awalnya?

Terbatasnya sumber daya pembina. Apalagi, kami kemudian memutuskan untuk tak melanjutkan kerja sama dengan teman pembina itu, karena ketidaksesuaian idealisme. Kami lalu sempat bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya saya memberanikan diri menceritakan masalah ini ke mailinglist pramuka . Alhamdulillah, direspons dengan baik.

Beberapa teman menyarankan supaya saya dan suami yang terjun langsung menjadi pembinanya. Menurut mereka, pada dasarnya orang tua adalah pembina anak-anaknya. Yang penting jadi pembina pramuka itu dasarnya harus sukarela dan ikhlas. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk terjun langsung. Selama beberapa minggu berjalan, semua hal kami tangani berdua saja. Mulai menyusun program latihan mingguan, melatih setiap minggu pagi, sampai mengurusi administrasi dan perlengkapan gudep.

4. Apa sebenarnya kelebihan Pramuka?

Kami ingin anak-anak dan remaja mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya, pramuka adalah kendaraan yang paling tepat. Di pramuka mereka bisa belajar pertolongan pertama pada kecelakaan, sains dan teknologi, musik, menggambar, masak, menulis, akting, menjahit, berkebun. Pendeknya di pramuka anak-anak bisa belajar apa saja sesuai minat dan bakat mereka. Tidak cuma teknik kepramukaan seperti semaphore, morse, baris berbaris, dan tali temali saja.

Selain itu di pramuka anak-anak juga belajar bersosialisasi, bekerja sama, berorganisasi, dan melatih kepemimpinan sejak usia siaga (SD) sampai usia dewasa dengan sistem barung, regu, sangga, racana. Jadi bisa dibilang pramuka itu kegiatannya 'multiple intelligence'.
Dan karena semua kegiatannya berbasis pada Satya (janji) dan Dharma (moral), Insya Allah outputnya adalah pemimpin yang berkarakter, dan menjunjung nilai-nilai luhur.
Menurut pengalaman saya yang mempunyai anak-anak yang sekarang sudah remaja, pendidikan seperti ini tidak bisa mereka dapatkan baik di rumah maupun di sekolah.

5. Bukankah di sekolah masing-masing mereka sudah mendapatkan kepramukaan?

Pendidikan kepramukaan adalah pendidikan ketiga sesudah pendidikan di rumah dan di sekolah. Kegiatannya berbentuk outbond di alam terbuka, bukan kegiatan di dalam kelas. Kami memilih basisnya di perumahan karena memang awalnya dibentuk untuk mewadahi kegiatan anak-anak dan remaja di lingkungan perumahan kami dan sekitarnya.

6. Bagaimana tanggapan warga perumahan?

Alhamdulillah, cukup banyak orang tua yang menanggapi positif kegiatan ini dan berhasil mendorong putra dan putrinya untuk ikut. Sekarang sudah ada sekitar 35 anak dari siaga, penggalang sampai penegak yang bergabung, dengan 5 orang pembina yang semuanya adalah orang tua dari anak-anak pramuka. Tapi, ada juga yang memprihatinkan, karena ada anak yang berminat ikut pramuka tapi tidak diizinkan orang tuanya. Tantangan kami memang mengubah citra masyarakat terhadap pramuka. Kegiatan ini masih dinilai tidak keren, kampungan. Malah ada yang menilai kegiatan ini corong pemerintah. Jadi kendalanya bukan dana atau teknis pelaksanaannya, tapi mengubah citra.

7. Apakah dana memang bukan kendala?

Alhamdulillah, kebetulan kami bisa mandiri tidak tergantung pada sponsor/donor ataupun kwartir. Modal awal bisa dibilang tidak ada, hanya untuk administrasi dan perlengkapan gudep seperti bendera. Untuk operasional kegiatan mingguan seperti peralatan dan perlengkapan memang semua didanai para pembinanya, yang juga warga perumahan. Kebetulan, para pembina adalah pekerja profesional berpendidikan S1 dan S2 yang di tengah kesibukannya dengan sukarela dan ikhlas meluangkan waktu dan tenaganya untuk bergabung membina anak-anak. Iuran bulanannya yang Rp.20.000, menjadi tabungan kegiatan outing setiap liburan. Kadang-kadang kami juga minta bantuan dana tambahan dari Masjid Al Mukhlishun untuk kegiatan outing, kalau masih kurang.

8. Anak didik selalu antusias?

Kebosanan mungkin ada. Kami harus bisa 'tarik ulur' untuk membina mereka. Harus gaul juga. Kami berusaha terus untuk tetap kreatif dan inovatif. Ke depannya insya Allah anak-anak penggalang sudah bisa lebih mandiri. Pembina hanya mendampingi.

9. Tidakkah tergerak untuk membuat kampanye ke perumahan-perumahan lain?

Sebenarnya, kami mengharapkan media bisa mempromosikan terbentuknya gudep-gudep teritorial/wilayah. Kami lebih fokus pada pengembangan gudep sendiri. Tapi saya membuat blog khusus untuk kegiatan pramuka di www.pramukakita.multiply.com. Selain untuk dokumentasi kami, sarana untuk memperluas jaringan, Insya Allah dapat menambah wawasan teman-teman yang berniat mendirikan gugus depan di lingkungannya. Ke depannya, blog ini bisa menjadi sarana peserta didik untuk mengembangkan kemampuan menulis, dan pengetahuan teknologi.

Thonthowi Dj

Blog EntryAnak kita dan sexJan 20, '08 7:35 PM
for everyone

Baca di koran tempo hari ini..

Ini salah satu kisah 'memprihatinkan' yg diceritakan Dr. Boyke berdasarkan penuturan pasiennya..

Seorang remaja putri berusia 12 tahun diledek temannya karena belum pernah pacaran dan berciuman. Karena penasaran, remaja itu lalu mencari tahu di internet. Tertarik mempraktekannya, ia meminta dan membayar sopir pribadinya.

"Tidak hanya ciuman, si sopir bejat itu justru mengajak tahap yang lebih hot yaitu bercinta. Akibatnya,si kecil ketagihan, kebablasan, hingga hamil dan bikin gempar semua ( anggota keluarga )"

  Diskusi yuk..


Blog EntryKisah di balik sebuah pialaSep 21, '07 11:48 AM
for everyone
Bimo, sekarang duduk di kelas VIII.

Suka mejeng depan komputer, sejak SD sudah punya account
FS, hobby ngutak-ngatik CSS nya, dan jadi tempat bertanya teman-temannya..

Belajar bahasa Inggrisnya ya dari situ, selain dari Asian Food Channel dan Disney Channel...hehe..

Beberapa waktu lalu, sekolahnya mau mengirimkan 3 orang wakil untuk ikut Spelling Bee Competition tingkat regional Depok.

Bimo sendiri ngga kepilih jadi wakil sekolah, tapi dia nekad dan bilang sama gurunya,"Pak, saya pengen banget ikut, bayar sendiri juga ngga apa-apa deh..."

Pada akhirnya Bimo memang ikut, meskipun bukan karena diizinkan ikut dengan biaya sendiri, tapi karena ada salah satu temannya yang berhalangan.

Dan ternyata ini dia hasilnya...

Dari 3 orang wakil yang dikirim, alhamdulillah Bimo yang tadinya cuma berharap bisa masuk semi final berhasil menjadi 2nd winner, sementara salah satu teman yang lainnya menempati 3rd position.

Insya Allah Bimo akan dikirim ke tingkat nasional bulan Oktober nanti..

Waktu aku tanya,"Kenapa kok kamu bisa nekat minta dikirim ikut kompetisi ?"

Dia bilang,"Abis, aku suka banget spelling bee, dan udah lama pengen ikutan tapi selalu aja ngga dikasih kesempatan"

Ternyata ya...kesempatan itu kadang-kadang juga harus dikejar..


Blog EntryAnak sekarangSep 7, '07 3:07 AM
for everyone
jam set 1 siang..
aku masih sendirian di rumah, anak2 belum pulang sekolah

kriiing...
"hallo..assalamualaikum"
ceklek...ditutup...

kriiiing....lagi...
"halloo...?"
"halloo...?"
"assalamu'alaikum.."
aku berhallo-hallo tapi ngga ada suara di ujung sana

"ini siapa ? " akhirnya ada suara bening gadis kecil di seberang sana
lho, kok malah dia yg nanya ya..

"mau bicara dengan siapa ?" aku masih berusaha ramah
"ini siapa ? " dia tanya lagi

"kamu mau bicara dengan siapa ?" aku mulai 'bete'
"kak B*** nya ada ?" akhirnya dia menjawab juga menanyakan salah satu jagoanku

"belum pulang sekolah "
"nanti kalo udah pulang suruh telpon aku ya"
katanya dengan nada memerintah

"telpon ke siapa? "
"temennya"
hihi, lutju juga anak ini ya...nyuru2 nelpon tapi ngga mau ngaku dia siapa..


"trus musti telpon kemana dong"
"ke hape aku"
hehe...lutju kan...

waktu aku sampein pesennya ke anakku, dia bilang
"loh, dia yang butuh, kok aku yang disuruh telpon sih"
tapi dia tau siapa anak ini, anak gadis ini masih SD, mungkin kelas 5 atau kelas 6.
cuma, agresifnya..telpon sehari bisa berapa kali, belum sms, belum lagi surat cinta yg berlembar2...

ini bukan kejadian yang pertama.
ketiga jagoanku semua pernah ngalamin.

duh, anak gadis sekarang, rasanya kok dulu aku ngga berani seagresif itu ya..
-hehe..emang produk jadul sih ni si ibu..-

sebenernya ya wajar wajar aja sih ada ketertarikan thd lawan jenis
memang manusia diciptakan utk berpasangan dengan jenisnya sendiri.

tapi, sebenernya pantes apa engga ya anak gadis 'nembak' duluan.
yg jelas anak cowok itu punya naluri 'hunting'
setau aku, mereka -anak2ku- juga lebih suka jadi pemburu daripada jadi buruannya..

any comment ?

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help